Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Tidur Kurang, Karier tak Cemerlang

Kamis 03 May 2018 15:53 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Tidur depan komputer/ilustrasi

Tidur depan komputer/ilustrasi

Foto: ist
Kurang tidur dianggap sebagai pembunuhan produktivitas dan penyebab sakit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian menunjukkan wanita bekerja lebih mungkin mengalami gangguan tidur dibanding pria. Padahal, tidur cukup dan produktivitas kerja hendaknya berjalan beriringan.

Gangguan tidur pasti pernah dialami wanita sepanjang siklus hidupnya. Salah satunya disebabkan peran multitugas. Wanita karier seringkali merangkap sebagai ibu dan istri di rumah. Mereka pada saat yang sama mendedikasikan diri untuk kantor dan keluarga.

Kebiasaan tidur buruk mengurangi daya ingat, konsentrasi, kejernihan berpikir, sehingga memengaruhi produktivitas dan kesuksesan. Ini juga yang menyebabkan karier wanita tak secemerlang pria di tempat kerjanya.

Kurang tidur dianggap sebagai pembunuh produktivitas dan menimbulkan masalah kesehatan bagi sebagian besar karyawan.

Perusahaan-perusahaan besar mulai serius menghadapi hal ini. Goldman Sachs misalnya mempekerjakan pakar dan ahli tidur di kantornya.

Johnson & Johnson membuat program pembinaan kesehatan karyawan yang mempromosikan kebiasaan tidur baik, seperti video relaksasi di perangkat seluler. Google bahkan menyelenggarakan acara sleeposium untuk karyawan.

Dilansir dari US News, Kamis (3/5), studi di Harvard menemukan rata-rata pekerja insomnia yang menyebabkan hilangnya produktivitas selama 11,3 hari dalam setahun kalender. Ini setara dengan kehilangan 2.280 dolar AS atau Rp 31,7 juta per orang.

Jumlah ini merugikan perekonomian AS lebih dari 63 miliar dolar AS atau Rp 875 triliun dalam bentuk absensi dan presenteeism, yaitu ketika karyawan datang ke kantor secara fisik, namun tidak fokus secara mental.

American Academy of Sleep Medicine dan Sleep Research Society menyebutkan idealnya seseorang tidur tujuh jam per hari untuk kesehatan mental dan fisik optimal. Tidur kurang dari tujuh jam terkait dengan obesitas, penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker, alzheimer, iritabilitas, gangguan kepribadian, gangguan suasana hati, seperti kecemasan dan depresi, serta kecelakaan saat berkendaraan.

Penelitian ini melibatkan 71 ribu perawat. Sebanyak 45 persen perawat wanita yang tidur kurang dari lima jam berisiko penyakit jantung dibanding mereka yang tidur delapan jam per malam. Tidur kurang dari lima jam meningkatkan risiko diabetes dan 35 persen berisiko kecelakaan saat berkendaraan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA