Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Berhenti Boros Beli Pakaian, Riset Ini Beri Alasannya

Rabu 21 Feb 2018 17:39 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nur Aini

Pengunjung memilih pakaian di salah satu perbelanjaan, Jakarta, Senin (11/12).

Pengunjung memilih pakaian di salah satu perbelanjaan, Jakarta, Senin (11/12).

Foto: Republika/ Wihdan
Mengerem belanja pakaian memperbaiki kondisi finansial dan lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Apakah Anda termasuk orang yang suka memboroskan uang untuk berbelanja pakaian baru? Jika jawabannya iya, mulai sekarang Anda perlu mengerem keinginan itu demi kondisi finansial pribadi dan keberlangsungan lingkungan.

Penelitian oleh American Express dan Nectar mengungkap jumlah uang yang dihabiskan warga Inggris untuk berbelanja pakaian. Dalam setahun, seseorang rata-rata menghabiskan uang 1.093 poundsterling atau sekitar Rp 20,84 jutaan.

Barang-barang yang dibeli termasuk pakaian luar, tas, sepatu, busana malam, dan pakaian dalam. Meskipun riset berlangsung di Inggris dan bukan Indonesia, hasilnya juga bisa menjadi referensi untuk introspeksi diri.

Selain itu, riset membantah anggapan bahwa perempuan lebih sering berbelanja daripada para pria. Pria justru 43 persen lebih boros dengan rata-rata belanja pakaian bulanan sebesar 115 poundsterling sementara perempuan hanya 81 poundsterling.

Dari segi penghematan, sudah jelas mengapa sebaiknya tidak terus-menerus belanja pakaian jika masih memiliki banyak baju layak pakai. Dari aspek lain, seluruh baju itu juga diproduksi dengan biaya kemanusiaan dan lingkungan.

Data menunjukkan bahwa dibutuhkan 7.000 liter air untuk membuat dua miliar celana denim yang tiap tahun diproduksi. Sementara untuk membuat kaus, butuh jumlah air setara air minum seseorang selama 900 hari.

Konsumen juga sebaiknya lebih sadar dan mencermati kredibilitas produsen busana. Walaupun tidak semua perusahaan garmen melakoninya, masih ada yang melakukan eksploitasi terhadap pekerja anak atau membayar buruh dengan upah rendah.

Anda perlu mengingat fast fashion alias mode yang terus bergulir punya sisi lain yang mengkhawatirkan. Pabrik-pabrik yang terus bekerja pun menyebabkan polusi di sungai atau tanah karena limbahnya, dikutip dari laman Metro.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA