Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Jangan Sekadar Larang Anak Gunakan Gawai

Ahad 28 Jan 2018 06:33 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Indira Rezkisari

Anak di era digital.

Anak di era digital.

Foto: EPA
Menerapkan aturan menggunakan gawai dan internet dipandang lebih bijak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbagai konten negatif, seperti pornografi, kekerasan, dan perilaku perisakan, dapat dengan mudah ditampilkan melalui berbagai gawai. Anak-anak pun menjadi kelompok yang paling rentan terkena efek negatif dari konten-konten tersebut.

Alih-alih melarang penggunaan gawai pada anak-anak, orang tua diharapkan bisa memberikan pendampingan dan arahan kepada anak-anak saat menggunakan gawai.

Menurut Psikolog Anak, Intan Erlita, saat ini, arus perkemangan teknologi, terutama teknologi digital, memang sulit untuk dibendung. Terlebih, generasi saat ini, yang kerap disebut generasi milenial, sudah begitu awam dan dekat dengan teknologi.

Melarang sepenuhnya anak menggunakan gawai, memang bukan menjadi solusi untuk menghindarkan anak-anak dari paparan negatif yang terdapat di dunia digital. Sebab anak masa kini memang terlahir di era digital.

''Ini sudah eranya anak-anak kita, Kalau kita melarang, kita malah akan membuat anak-anak tertinggal dari eranya. Jadi jangan sekedar melarang, harus ada aturannya. Di sisi lain, membolehkan juga ada aturannya. Gadget ini seperti pisau, punya dua sisi, bisa negatif dan positif,'' ujar Intan dalam seminar Digital Parenting: Social Media Cheatsheet'' di Jakarta, Sabtu (27/1).

Intan menambahkan, larangan penggunaan gawai kepada anak-anak, justru akan membuat anak semakin penasaran. Buat orang tua, kondisi yang paling berbahaya, jika anak malah mengakses atau melakukan sesuatu di belakang atau tanpa sepengetahuan orang tua, termasuk memiliki akun di media sosial.

Kendati begitu, membolehkan anak-anak untuk menggunakan gawai juga harus ada aturan dan kesepakatan yang dibuat antara anak-anak dan orang tua. Misalnya, tutur Intan, anak-anak boleh memiliki akun media sosial, namun akun tersebut juga bisa diakses oleh orang tua.

Untuk itu, orang tua juga diharapkan bisa mengikuti dan mengetahui perkembangan terkini dari teknologi digital. ''Intinya, kita bisa membuat anak-anak kita tetap aman, meskipun mereka lagi online, yang terpenting keamanan yang paling utama,'' tuturnya.

Dalam memberikan pemahaman penggunaan gawai dan media sosial pada anak, orang tua diharapkan bisa mengajak anak untuk berkomunikasi. Cara berkomunikasi pun menentukan bagaimana anak-anak merespon keinginan orang tua terkait penggunaan gawai.

''Duduk bareng dengan anak, bicaralah dan komunikasi seperti usianya dia (anak). Jangan terlalu tinggi, nanti anak malah tidak paham. Pakai bahasa mereka, atau bisa juga dengan menggunakan metode permainan agar anak bisa lebih mudah mengerti,'' ujar Intan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA