Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Monday, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Waspada, HIV Semakin Resisten Terhadap Obat

Ahad 03 Dec 2017 16:11 WIB

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari

HIV/AIDS

HIV/AIDS

Foto: pixabay

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penelitian berskala besar menunjukkan bahwa Human Immunodeficiency Virus atau HIV semakin resisten terhadap obat-obatan yang selama ini cukup efektif dalam melawan infeksi HIV. Kondisi ini dikhawatirkan akan membawa dunia kembali ke masa di mana obat-obatan tak dapat banyak membantu pasien dengan infeksi HIV.

Kesimpulan ini diungkapkan setelah tim peneliti menganalisa data lebih dari 56 ribu orang dewasa yang hidup dengan HIV di sub-Sahara Afrika, Asia dan Amerika Latin. Seluruh orang dewasa dengan HIV ini berasal dari 63 negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Mereka baru memulai terapi dengan obat-obatan antiretroviral antara tahun 1996 hingga 2016.

Penelitian menunjukkan bahwa HIV semakin memiliki kekebalan terhadap obat-obatan antiretroviral. Kekebalan terhadap obat antiretroviral mulai meningkat pada 2001 hingga 2016. Hampir 10 persen dari seluruh orang dewasa yang terlibat dalam penelitian ini sudah mengalami resistensi terhadap obat.

Peningkatan resistensi atau kekebalan obat paling cepat terjadi di bagian timur dan selatan Afrika. Sebagian besar orang dengan HIV mengalami resistensi karena sebelumnya mengonsumsi obat antiretroviral namun berhenti.

"Seringkali karena alasan pribadi, kesulitan mendapatkan layanan penyedia terapi atau masalah pasokan obat yang umum terjadi di area berpendapatan rendah," jelas profesor di bidang infeksi dan kekebalan tubuh dari University College London Profesor Ravindra Gupta, seperti dilansir WebMD.

Orang dengan HIV yang semula menghentikan obat antiretroviral lalu kembali menggunakan obat tersebut umumnya tidak memiliki respon pengobatan yang baik. Tak hanya itu, mereka juga berpeluang untuk menularkan strain HIV yang resisten terhadap obat kepada orang lain.

Kondisi ini, terang Gupta, menunjukkan pentingnya memperbaiki pengawasan terhadap resistensi obat. Salah satu upaya yang disarankan Gupta adalah mengulas obat-obatan apa saja yang masuk ke dalam lini pertama pengobatan.

"Untuk mengakhiri epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat, meminimalisasi resistensi obat merupakan salah satu respon (yang perlu dilakukan)," ujar Gupta.

Hasil penelitian yang diungkapkan pada peringatan Hari AIDS Sedunia ini telah dimuat dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases. Meski penelitian ini tidak mencakup negara-negara kaya, beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kasus resistensi obat HIV di negara-negara maju dan kaya cenderung stabil atau menurun.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA