Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Patung Jokowi di Madame Tussauds Berubah Penampilan

Ahad 20 Agu 2017 15:09 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Presiden Joko Widodo (tengah) menyambut pemahat patung lilin asal Inggris Laura (kedua kanan) sebelum pengukuran dan pemotretan Presiden untuk pembuatan patung lilin Museum Madame Tussaud Hongkong di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/10).

Presiden Joko Widodo (tengah) menyambut pemahat patung lilin asal Inggris Laura (kedua kanan) sebelum pengukuran dan pemotretan Presiden untuk pembuatan patung lilin Museum Madame Tussaud Hongkong di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (12/10).

Foto: Antara/Yudhi Mahatma

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masih ingat awal Mei lalu saat patung lilin figur Presiden Joko Widodo dipamerkan di Museum Madame Tussauds Hong Kong? Persis 17 Agustus 2017, patung lilin Presiden Jokowi berubah kemeja. Kali ini memakai batik.

Nuansa beda sangat terasa karena aroma khas Batik yang berasal dari bahan-bahan pewarna alami pembuatan batik seperti kulit-kulit kayu dan bahan yang lainnya ini menyebar ke seluruh ruangan museum. Hal inilah yang membuat para pengunjung ingin mendekatinya dan menghirup wanginya.

"Ini salah satu cara Presiden Jokowi mempromosikan pariwisata Indonesia. Batik ini pakaian tradisional asli Indonesia, sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Oleh sebab itu beliau berharap, pengunjung khususnya dari Indonesia dapat merasa seperti di 'rumah' sendiri. Ini sekaligus mengenalkan batik sebagai budaya asli Indonesia kepada pengunjung dari berbagai negara," kata Marketing Executive Madame Tussauds Hong Kong, Bernadette Chow, dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Ahad (20/8).

Chow mengatakan, batik yang kini dipakaikan di patung Jokowi memang langsung diberikan oleh Presiden Jokowi. "Batik itu dari Presiden langsung. Kami yakin para pengunjung akan sangat familiar melihat patung Jokowi yang memakai batik. Untuk pengunjung dari berbagai negara lainnya jadi bisa lebih tahu tentang Indonesia," ujarnya.

Kepada awak media, Presiden Jokowi ikut membenarkan hal tersebut. Dia berujar, kalau batiknya didatangkan langsung dari Indonesia. "Iya, dari sini (Indonesia) asli, bukan dari mereka. Jangan keliru, asli dari sini, dijahit di sini. Asli, asli, dan sudah saya pakai," ujarnya.

Batik sendiri sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia pada 2 Oktober 2009. Ini merupakan sejarah penting bagi perkembangan batik hingga diakui sebagai budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan oleh dunia. Dan kini tiap 2 Oktober diperingati juga sebagai Hari Batik Nasional.

Selain mengganti kemejanya dengan Batik, Jokowi bersama Ibu Negara Iriana juga  berharap figur patungnya tersebut dapat lebih mempromosikan pariwisata Indonesia. "Background-nya saya minta diganti setiap bulan. Bisa Labuan Bajo, Bali, Raja Ampat, Danau Toba, terus diganti background-nya. Ini saya kira bagus untuk (promosi) pariwisata kita," kata Jokowi

Figur lilin Jokowi di museum ini menjadi satu-satunya kepala negara aktif di Asia Tenggara yang menghiasi museum tersebut. Jokowi merupakan Presiden Indonesia kedua yang dibuatkan figur lilinnya di museum tersebut. Sebelumnya, Madam Tussaud membuatkan patung lilin dengan figur Presiden Sukarno.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, juga bangga atas inisiatif Presiden Jokowi untuk terus mengenalkan  pariwisata Indonesia."Presiden Jokowi ini memang benar benar benar endorser Wonderful Indonesia paling menjadi
'bintang iklan' mengenalkan pariwisata Indonesia," ujar Arief.


Dia semakin optimistis dan percaya diri dalam mengembangkan pariwisata ketika presiden menaruh perhatian di sektor pariwisata. Terlebih saat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI
di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8), Presiden Jokowi tampak mengenakan pakaian adat Kalimantan. Bajunya menyerupai jas berwarna hitam, ditambah kain songket dan tutup kepala. Sementara Iriana mengenakan pakaian adat Minang berwarna merah, juga lengkap dengan tutup kepalanya.

"Inilah Wonderful Indonesia. Memiliki Keberagaman etnis suku, ras dan agama,  termasuk ornamen pakaian adat yang menjadi khas daerah masing-masing. Ini ciri khas budaya kita, nilai jual pariwisata kita sudah di-endorse dengan sangat baik oleh Presiden Jokowi," kata dia.

Pariwisata, kata Arief, adalah mengelola persepsi publik. "Tugas promosi adalah melukis persepsi, tugas destinasi adalah mendekatkan persepsi dengan kenyataan di lapangan. Ketika promise product sama atau lebih tinggi dari expectation customers, maka PR-ing kita sukses,” ujarnya.

“Spirit Presiden Jokowi inilah timing yang paling bagus untuk mempromosikan lebih keras lagi sehingga membuat Wonderful Indonesia semakin bergaung di seluruh dunia. Terima kasih Presiden Jokowi," kata Arief lagi.

sumber : Kemenpar
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA