Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Olimpiade Tokyo 2020 Disiapkan tak Ramah Perokok

Rabu 01 Feb 2017 19:34 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Indira Rezkisari

Logo Olimpiade Tokyo 2020.

Logo Olimpiade Tokyo 2020.

Foto: EPA

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Para aktivis mengatakan, Jepang harus membuat tempat-tempat umum di Tokyo bebas asap rokok pada saat menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2020. Jika hal itu tak dilakukan, maka mereka akan berhadapan dengan aturan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang meminta tuan rumah menggelar pertandingan sehat.

Menteri Kesehatan Jepang mengatakan bahwa pemerintah berkeinginan untuk "menghilangkan" aktivitas merokok di depan umum pada saat ibukota menjadi tuan rumah Olimpiade. Tapi merokok memang sangat lekat dengan warga Jepang, bahkan di depan kantor Departemen Kesehatan terdapat mesin penjual rokok.

Menteri Kesehatan Jepang Yasuhisa Shiozaki mengatakan pada konferensi pers pada bulan Januari, departemennya ingin mengajukan rancangan kebijakan untuk mencegah berkembangnya perokok pasif. Hal itu disampaikan saat sesi dengan parlemen.

"Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, langkah Jepang untuk mencegah perokok pasif adalah salah satu yang terburuk di dunia," ujarnya.

IOC menginginkan pertandingan "bebas tembakau". Mereka meminta semua kota tuan rumah mengeluarkan undang-undang untuk melarang merokok di dalam ruangan dan ruang publik tertutup, termasuk restoran, bar dan kafe.

Hukum di Jepang mendorong restoran dan tempat umum lainnya untuk membatasi paparan asap rokok dengan mendirikan ruang merokok terpisah atau area terpisah bagi non-perokok. Namun aturan tersebut tak dijalankan dengan hukuman tegas. Perokok bahkan bisa merokok di halaman sekolah dan rumah sakit.

Memperketat aturan membuat Jepang harus menghadapi oposisi yang kuat dari organisasi manajemen restoran. Manajamen restoran khawatir aturan itu nantinya akan berdampak pada bisnis mereka.

Ketua organisasi non-pemerintah Jepang Society for Tobacco Control, Manabu Sakuta mengatakan situasi untuk mencegah perokok pasif bertambah banyak di Jepang menghadapi kesulitan. Bahkan setara dengan yang dihadapi di negara berkembang.

"Kami berharap adanya perbaikan sehingga tidak akan ada banyak masalah dengan perokok pasif di semua bagian dari Tokyo yang tidak memenuhi standar Olimpiade," katanya seperti dilansir Japan Today.

Namun tingkat merokok di Jepang sudah menurun seiring kesadaran akan kesehatan dan harga rokok yang semakin tinggi. Data menunjukkan, kini hanya sekitar 30 persen pria dan 7,9 persen wanita merokok di Jepang.

Keisuke Kurimoto, wakil direktur kementerian Kesehatan Seksi Pelayanan, mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apa isi dari rancangan kebijakan yang diusulkan. Rancangan kemungkinan baru akan siap pada Juni.

"Kami menggunakan ini (Olimpiade) sebagai kesempatan, momen. Tentu saja, ini bukan satu-satunya alasan, dampak kesehatan adalah prioritas utama kami," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA