Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Apakah Si Bayi Kolik?

Jumat 25 Nov 2016 08:46 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Andi Nur Aminah

Bayi menangis (Ilustrasi)

Bayi menangis (Ilustrasi)

Foto: Parents

REPUBLIKA.CO.ID, Intuisi seorang ibu bisa merasakan ada sesuatu yang salah terjadi pada bayinya. Seorang ibu dari Ontario, Kanada bernama Madilyn menyadari bayinya yang berusia dua pekan, Owen menangis lebih dari satu jam.

Dia awalnya hanya mengetahui bayinya sedang sakit perut. Sebanyak 40 persen bayi berpotensi mengalami kolik. Salah satu cirinya adalah bayi terus berteriak dan menangis lebih dari tiga jam sehari dan lebih dari tiga hari selama sepekan.

Bayi kolik biasanya terjadi tiga hingga enam pekan pertama kehidupannya. Lalu biasanya berakhir ketika bayi berusia tiga atau empat bulan. Kepala Medis Texas Children’s Pediatrics and Urgent Care di Houston, Stan Spinner mengatakan kebanyakan bayi kolik pasti rewel dan menangis. "Mereka bisa jadi menangis hingga pukul 10 malam, khususnya jam tiga pagi dini hari," katanya, dilansir dari Web MD, Jumat (25/11).

Bagaimana caranya mendiagnosis bayi kolik supaya tepat? Pertama, dokter pastinya lebih tahu. Jika khawatir, Anda bisa membawa bayi ke dokter spesialis anak untuk menemukan jawaban sebenarnya. Bisa jadi bayi hanya sekadar alergi susu sapi (jika tidak diberikan ASI) yang memicu sakit perut biasa, bukan kolik. Jika tak yakin dengan dokter pertama, Anda bisa mencari pendapat dari dokter kedua.

Kedua, percayalah insting ibu. Seorang ibu memiliki indra keenam tentang anak mereka. Jika Anda tak yakin bayi kolik, mungkin bisa ke rumah sakit untuk melakukan uji klinis lain. Setidaknya ada empat kondisi medis lain pada bayi yang ciri-cirinya mirip dengan kolik.

Pertama, gastroesophageal reflux disease (GERD), yaitu asam lambung naik ke esophagus bayi sehingga menyebabkan nyeri refluks. Bayi mengeluarkan liur berlebihan dan menangis selama disusui.

Kedua, infeksi. Jika bayi Anda rewel, demam, dan tampak sakit, dia bisa saja mengalami infeksi dalam darah, kandung kemih, dan organ tubuh lain. Maka jika mengalami kondisi ini, hubungi dokter segera.

Ketiga, masalah jantung. Bayi bisa rewel jika jantungnya tak memompa darah dengan benar. Satu dari 100 bayi lahir dengan cacat jantung. Ciri-cirinya adalah bibir sering membiru, pernapasannya cepat, dan pola makannya buruk.

Keempat, intoleransi laktosa. Ini sangat jarang terjadi, namun beberapa bayi tidak bisa mencerna susu formula. Mereka akhirnya sering buang gas dan super rewel. Anak-anak dengan riwayat keluarga intoleransi laktosa biasanya berisiko lebih tinggi mengalami hal sama.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA