Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Kurang Tidur? Studi Sebut Kafein Pun tak akan Membantu

Rabu 29 Jun 2016 11:02 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Kopi, salah satu sumber kafein.

Kopi, salah satu sumber kafein.

Foto: flickr

REPUBLIKA.CO.ID, Penelitian baru menemukan bahwa orang yang tidak mendapatkan cukup tidur selama beberapa hari berturut-turut tidak dapat bergantung pada kafein untuk memberi mereka dorongan melek.

Para peneliti melihat 48 orang yang mendapat tidur malam hanya 5 jam, selama lima hari berturut-turut. Dua kali sehari, peserta mengambil sebuah placebo, atau 200 miligram kafein dalam secangkir besar kopi.  Penelitian ini adalah double-blinded, yang berarti tidak satu pun baik para peneliti atau peserta tahu siapa yang mendapat kafein atau yang mendapat placebo.

Setelah tiga malam, para peneliti menemukan kesiagaan partisipan dan kinerja mereka pada serangkaian tes jatuh, bahkan setelah mereka mendapatkan kafein.

“Hasil ini adalah penting, karena kafein adalah stimulan yang banyak digunakan untuk melawan  penurunan kinerja setelah periode tidur yang terbatas,” pimpinan penelitian tersebut, Tracy Jill Doty, seorang ilmuwan perilaku biologi di Walter Reed Army Institute of Research di Silver Spring, Maryland.

Seperti dilansir dari laman Foxnews, dari data penelitian ini menunjukkan bahwa dosis kafein harian yang efektif sama tidak cukup untuk mencegah penurunan kinerja selama beberapa hari tidur terbatas. Hasilnya adalah yang pertama dari mereka yang baik, Doty mengatakan kepada Live Science. Ada sedikit penelitian tentang bagaimana kafein mempengaruhi orang yang mendapatkan terlalu sedikit tidur kronis.

Ini adalah informasi yang sangat penting untuk militer, di mana pejuang perang yang mungkin telah membatasi tidur dan mungkin juga dapat menggunakan kafein.

Dalam studi tersebut, peserta menghabiskan seminggu tidur di laboratorium, dan mengambil placebo atau kafein pada pukul 08.00, dan lagi pada pukul 12.00, setiap hari.

Kemudian mereka mengambil serangkaian tes terkait dengan suasana hati, rasa kantuk, sulit tidur dan waktu reaksi. Mereka juga mengambil tes kognitif setiap jam ketika mereka terjaga.

Hasil yang menunjukkan bahwa kelompok yang mengonsumsi kafein lebih cepat bereaksi pertama kali selama dua hari dibandingkan dengan kelompok placebo, tapi tidak di tiga hari terakhir dari percobaan. Selain itu, orang-orang yang membutuhkan kafein dilaporkan merasa lebih bahagia daripada mereka yang mengambil placebo hanya pada beberapa hari pertama dari percobaan.

“Di akhir hari tidur yang terbatas, mereka dalam kelompok kafein dinilai mereka lebih kesal dari mereka dalam kelompok placebo," tulis peneliti.

Doty menyebut temuan penting, seperti mereka menunjukkan bahwa jumlah kafein yang sama mungkin tidak efektif dalam membantu melestarikan kinerja yang di bawah kurang tidur. Namun, penelitian ini tidak memperhitungkan individu yang kurang tidur mungkin meningkatkan asupan kafein mereka  dari waktu ke waktu. “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kafein lebih digunakan,”
ujarnya.

“Peningkatan dosis kafein akan meningkatkan efek samping negatif seperti merasa gugup, tapi kami tidak tahu saat ini jika peningkatan dosis akan mencegah penurunan kinerja.”

(baca: Kafein tak Cuma Ada di Kopi Lho)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA