Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Mengenal Dua Jenis Kanker Limfoma

Sabtu 10 Oct 2015 08:49 WIB

Rep: C04/ Red: Winda Destiana Putri

Kanker/ilustrasi

Kanker/ilustrasi

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyakit kanker limfoma ternyata dapat terbagi menjadi dua jenis, yakni kenker limfoma tipe Hodgkin (yang dinamakan sesuai dengan penemu pertamanya, Dr. Thomas Hodgkin) dan juga kanker limfoma tipe Non Hodgkin.

Kedua jenis kanker limfoma tersebut memiliki pola perilaku, penyebaran serta respon terapi yang berbeda-beda.
 
Oleh karena itu menurut DR. dr Andhika Rachman, SpPD, KHOM, sebelum melanjutkan tindakan pengobatan melalui kemoterapi, pasien wajib mengetahui terlebih dahulu jenis kanker yang di deritanya. Jenis kanker ini dapat ditemukan dengan pengamatan sel kanker di bawah mikroskop atau test laboratorium yang spesifik.
 
"Kanker limfoma jenis Hodgkin, umumnya menyebar secara bertahap melalui pembuluh-pembuluh getah bening. Walaupun sangat jarang ditemukan, pada stadium lanjut jenis kanker ini dapat menyebar melalui aliran darah dan kembali menyebar ke organ vital lain, seperti hati, paru-paru dan juga sumsum tulang belakang," jelas Andhika.
 
Sedangkan jenis Non Hodgkin, lanjut Andhika umumnya menyerang sel darah putih terlebih dahulu dan otomatis menyebabkan sistem kekebalan tubuh si penderita mengalami penurunan. Ini dikarenakan, sel darah putih memiliki peran cukup penting bagi tubuh, yakni bertugas untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus, parasit dan zat asing lainnya.
 
Tidak hanya sampai di situ, ternyata kanker limfoma Non Hodgkin juga kembali dikelompokkan menjadi dua jenis berdasarkan kecepatan pertumbuhan sel kankernya. Kedua jenis tersebut adalah jenis agresif (kanker ganas) dan non agresif (kanker jinak).

"Jika jenis kankernya sudah ganas, dan kondisinya sudah cukup parah biasanya dokter memprediksi pasien hanya sanggup bertahan paling lama sekitar enam bulan. Namun, apabila kankernya masih bersifat jinak dan dideteksi sejak dini kemungkinan pasien untuk sembuh dan bertahan hidup lebih lama juga semakin besar," tambahnya.
 
Selain itu, menurutnya selain pengobatan medis, dukungan keluarga bagi pasien penderita kanker sangat di butuhkan. Kondisi psikologis dari pasien penderita kanker ini sangat mempengaruhi percepatan pertumbuhan sel kanker.
 
"Kalau pasiennya stress, malah akan semakin memperparah tingkat stadium yang di derita. Maka bahagia atas dukungan keluarga dan orang terdekat sangat berpengaruh dalam proses penyembuhan pasien," lanjut Andhika.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA