Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

ASI Eksklusif Bantu Kurangi Risiko Diare dan Kolik

Ahad 13 Sep 2015 06:03 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Winda Destiana Putri

Air Susu Ibu (ASI)

Air Susu Ibu (ASI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemberian ASI eksklusif oleh ibu sangat dianjurkan untuk bayi penderita diare dan kolik. Pasalnya ASI memiliki nutrisi lengkap untuk tumbuh kembang si kecil, mulai dari perkembangan otak hingga peningkatan sistem kekebalan tubuh.

"Secara alami, ASI mengandung probiotik dan laktosa yang dapat menjaga kesehatan serta kenyamanan saluran cerna," kata Prof. Yvan Vandenplas dari Department of Pediatric, University of Brussels dalam siaran pers yang diterima ROL, baru-baru ini.

Apabila terasa kurang, probiotik dan laktosa tambahan dapat diberikan kepada anak berusia tujuh bulan ke atas melalui makanan dan minuman olahan susu, seperti yoghurt dan keju. Salah satu jenis probiotik atau bakteri baik, yakni Lactobacillus reuteri, memiliki potensi untuk memberikan kenyamanan pada saluran cerna sehingga mampu mengurangi gejala gangguan pencernaan.

Sementara laktosa atau karbohidrat yang terkandung di dalam susu mampu meningkatkan penyerapan nutrisi dengan menstimulasi pertumbuhan mikrobiota baik dalam usus, meningkatkan penyerapan kalsium, serta mineral lainnya.

Vandenplas meminta orangtua jangan menganggap remeh gangguan pencernaan seperti diare dan kolik meski dua gangguan pencernaan ini umum dialami oleh si kecil.

"Penanganan yang kurang tepat dapat membahayakan anak serta menurunkan kualitas hidup keluarganya," kata dia. Jagalah saluran cerna si kecil dari sekarang untuk tumbuh kembang optimal serta kualitas hidup keluarga yang lebih ceria.

Penelitian tahun 2009 yang berjudul Infantile Colic, Prolonged Crying, and Maternal Postnatal Depression Status and Quality of Life in Mothers of Infants with Colic 2 dan penelitian berjudul Psychosocial 3 di 2013 mengungkapkan bahwa anak yang menderita kolik dapat mengganggu pola tidur pada ibu dan memicu depresi, serta mengakibatkan rasa lelah, frustrasi, dan gelisah sehingga menurunkan kualitas hhttp://cms.republika.co.id/news/createidup keluarga.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA