Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Melestarikan Budaya Sepintu Sedulang di Bangka

Jumat 11 Sep 2015 05:30 WIB

Red: M Akbar

Seorang pria membawa nampan dalam tradisi Sepintu Sedulang

Seorang pria membawa nampan dalam tradisi Sepintu Sedulang

Foto: akbar/republika

REPUBLIKA.CO.ID, BANGKA -- Angin siang bertiup kencang. Bulir-bulir tanaman padi yang sudah tak berisi itu terhuyung-huyung mengikuti arah tiupan angin. Tak jauh, di dalam rumah panggung beratap rumbia, sejumlah orang terlihat sedang asik bercengkrama. Ada tawa, ada juga yang bercerita.

Di saat obrolan mengalir, seiring dengan tiupan angin siang yang menderas, tibalah seorang pria muda membawa sebuah baki yang ditutupi dengan tudung saji. Warna tudung itu didominasi warna merah. Pada bagian atas tudung, terhias warna hijau dan kuning yang membentuk pola menyerupai bintang. Tak heran jika tudung ini sungguh mencolok perhatian berkat warnanya.

Tak lama setelah tudung saji diletakkan di atas alas, tersingkaplah isi dari tudung saji tersebut. Wow...sebuah makan siang rupanya. Sungguh siang yang menyenangkan. Sebuah santapan yang mungkin akan sangat sulit ditemukan jika berada di Jakarta.

Bayangkanlah, makan siang ditemani semilir angin dari hamparan ladang sawah, sungguh anugerah yang tak terkira. Subhanallah. Sebuah persinggahan di Pundok Pelawan menjadi siang yang sungguh menggairahkan untuk mengisi perut yang telah kosong merontang.

Di atas nampan dari kaleng itu sudah terhidang beragam jenis makanan. Ada ikan kerisi bakar, lempah kuning ikan kakap, tumis kucai ikan pari, lempah kulat Pelawan serta dua jenis sambal. Semua hidangan itu dilengkapi dengan nasi merah. Sajian itu menjadi paripurna karena dilengkapi dengan minuman jus madu Pelawan. Inilah sajian khas yang hanya bisa ditemukan jika kita berkesempatan berkunjung ke Desa Namang, Bangka Tengah. Sebuah desa yang berjarak 20 kilometer arah selatan dari pusat kota Pangkalpinang.

''Semua jenis makanan ini adalah makanan khas Pelawan,'' ucap Yusuni, sang pemilik kedai. Sudah tiga tahun lamanya, wanita berusia separuh abad ini membuka lapak di tengah hamparan sawah. ''Alhamdullilah selalu saja ada tamu yang mampir ke sini,'' ujarnya.

Tak lupa, Yusuni secara selintas menjelaskan jenis-jenis makanan yang dihidangkannya. Ikan kerisi bakar adalah ikan laut. Lalu lempah kuning ikan kakap lebih menyerupai masakan gulai layaknya makanan orang Minang. Kemudian yang menjadi 'jagoannya' adalah lempah kulat Pelawan. Kulat pelawan ini adalah jamur yang tumbuh dari pohon Pelawan. Pohon ini bersifat endemik alias hanya dapat tumbuh di daerah Bangka Tengah saja. Jamur itu dibumbui dengan kuah sejenis gulai berwarna kuning kecoklatan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA