Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kurang Tidur Pengaruhi Gairah Seksual Wanita

Selasa 25 Agu 2015 05:35 WIB

Rep: MGROL 47/ Red: Indira Rezkisari

Banyak orang yang sesungguhnya belum memahami konsep tidur yang menyehatkan seperti apa.

Banyak orang yang sesungguhnya belum memahami konsep tidur yang menyehatkan seperti apa.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, Lelah menjadi sebuah alasan yang paling umum yang wanita berikan untuk tidak berhubungan seks dengan pasangannya. Sebuah survei tiga tahun lalu menunjukkan bahwa sakit kepala dijadikan alasan kuat untuk tidak melakukan seks dengan pasangannya. 

Tapi sebuah studi tahun lalu di Amerika pada lebih dari 1.000 karyawan dari tiga perusahaan menemukan bahwa 76 persen pekerja merasa lelah beberapa hari dalam seminggu, sehingga menjadi terlalu capai untuk melakukan seks mungkin merupakan sebuah kebenaran.

Kita sudah tahu bahwa kurang tidur dapat berdampak terhadap obesitas, penyakit jantung dan diabetes serta mengurangi umur kita. Jadi, apakah merusak kualitas dari seks, juga?

Sebuah studi percontohan dari 171 perempuan muda yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa tidur mempengaruhi berapa banyak mereka ingin berhubungan seks dan seberapa mudah mereka menjadi terangsang. Tapi ini tidak terkait dengan seberapa lelah mereka benar-benar merasa. Satu jam tambahan tidur menyebabkan peningkatan 14 persen di peluang seks pada hari berikutnya. Lebih banyak tidur juga meningkatkan gairah Kaun Hawa, yang diukur melalyu skala indeks gairah seksual perempuan.

Hasrat seksual perempuan memang rumit. Dikutip dari Guardian, Selasa (258), panel ahli mengatakan bahwa antara 20 persen hingga 50 persen wanita memiliki masalah dengan seks. Masalah sering berhubungan dengan kurangnya keinginan atau kesulitan dalam menjadi terangsang. Tapi berapa banyak dari hal ini adalah medis, dan berapa banyak sosial atau psikologis, sangat bisa diperdebatkan.

Diperkirakan bahwa 20 persen wanita memiliki masalah dengan pelumasan, yang bisa disebabkan karena menopause hingga tidak memadainya rangsangan sebelum berhubungan atau foreplay. Kurangnya gairah juga bisa disebabkan kurang tidur. Sebab REM atau rapid eye movement tidur pada wanita dikaitkan dengan peningkatan aliran darah ke vagina, sementara kurang tidur juga mengurangi kadar hormon androgen, yang dapat mengurangi keinginan untuk seks.

Seks memang aneh, rumit untuk masyarakat awam namun kegiatan seks itu penting. Apakah dengan tidur membantu semua ini? Yang mengatakan ya, mungkin untuk mempromosikan respons seksual yang sehat melalui tindakan regulasi pada hormon, dan pengamanan terhadap kondisi medis. Jam-jam tidur yang disarankan bagi para pasangan yang rutin melakukan seks adalah antara pukul 19.00 hingga 21.00.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA