Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Wah, Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Kematian

Rabu 12 Aug 2015 04:22 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Tidur yang cukup (Ilustrasi)

Tidur yang cukup (Ilustrasi)

Foto: Chron

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Apakah anda adalah orang yang super sibuk hingga mengesampingkan waktu tidur? Jika ya, maka mulai sekarang anda harus memperbanyak waktu tidur. Penelitian menunjukkan orang yang tidur kurang dari enam jam per hari rentan terkena penyakit. Orang yang kurang tidur bahkan memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibanding mereka yang cukup tidur.

British Sleep Council mengungkapkan lebih dari sepertiga populasi manusia tidur kurang dari enam jam sehari. Kondisi demikian dapat meningkatkan risiko kematian hingga 12 persen. Kurangnya waktu tidur dapat memicu berbagai macam penyakit termasuk diabetes, obesitas, dan jantung.

"Kurang tidur menimbulkan banyak gangguan kesehatan," kata Lisa Artis dari British Sleep Council dikutip dari laman independent.co.uk, Senin (10/8).

Menurut Lisa ada dua faktor yang menyebabkan seseorang kurang tidur. Pertama, orang-orang tidak menyadari bahwa tidur itu penting dan berguna meningkatkan kesehatan. Kedua, cukup tidur belum menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Mayoritas masyarakat baru menekankan pada keseimbangan pola makan.

Mereka memperbanyak konsumsi sayur dan buah hingga lima kali lipat namun tidak diimbangi dengan durasi tidur yang cukup. Lisa menambahan kewajiban mengurus anak, gangguan kesehatan, dan faktor lingkungan dapat mengganggu pola tidur.

Orang yang tidak tidur akan melepaskan hormon yang meningkatkan level stres. Hormon tersebut juga memacu kecepatan detak jantung dan meningkatkan tekanan darah yang menjadi dalang berbagai macam penyakit.

Penelitian menemukan gaya hidup tidur kurang dari enam jam per hari berimplikasi mengurangi tingkat perhatian dan konsentrasi seseorang. Kurang tidur juga menyebabkan seseorang menjadi pelupa dan berkorelasi erat dengan penyakit Alzheimer.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA