Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Anak Tukang Bully? Hadapi dengan Cara Ini

Sabtu 18 Apr 2015 08:41 WIB

Red: Indira Rezkisari

Praktik bullying oleh siswa di sekolah (ilustrasi)

Praktik bullying oleh siswa di sekolah (ilustrasi)

Foto: BULLY.CA

REPUBLIKA.CO.ID, Entah apakah dia memukul atau menjuluki teman sekelasnya si gendut, anak Anda mungkin menimbulkan kerusakan serius.

Anak-anak usia sekolah yang bertingkah laku seperti ini di sekolah seringkali mencari perhatian. Jika mereka melihat bahwa menyakiti seseorang bisa berhasil, mereka akan terus melakukannya. Jadi cari tahulah mengapa anak begitu menginginkan perhatian–dan segera arahkan masalah tersebut.

Memukul atau menyebarkan rumor juga bisa menjadi pertanda dia belum memahami pengendalian diri. “Kita semua punya agresitivitas bawaan. Kita hanya tidak melakukannya karena paham betapa perilaku kita memengaruhi orang lain dan karena kesadaran sosial serta sistem nilai,” jelas Dr. Maidenberg, dikutip dari www.parentsindonesia.com. “Terkadang anak-anak belum memiliki tombol untuk mematikannya.”

Untuk menghadapinya, penting untuk memahami apa yang menjadi motivasi anak, dan cara terbaik mengetahuinya adalah dengan bertanya. Dr. Hertenstein menyarankan sesuatu terkait dengan hal ini: “Gurumu berkata kepada Mama tentang kamu yang membuat Owen tersandung di lorong. Apa yang membuatmu ingin melakukannya?”

Selanjutnya, gunakan taktik apa-yang-akan-kamu-rasakan. Katakan, “Kamu mengolok-olok Nate karena dia tidak bisa berolahraga, tapi apa yang kamu rasakan jika orang lain mengolok-olokmu karena kamu tidak suka menginap?”

Begitu Anda tahu apa yang terjadi di dalam benaknya, latihlah teknik-teknik untuk membantunya dengan pengendalian dirinya, seperti menarik napas dalam atau menghitung sampai sepuluh sebelum bertindak. Sementara menyelami alasan apa yang membuatnya terprovokasi dan memberikan alternatif adalah hal penting, begitu juga halnya dengan memberikan konsekuensi. Entah apakah dia tidak boleh menonton TV atau tidur lebih cepat, mengambil hak istimewa akan menunjukkan bahwa perilaku ini tidak baik.

Juga pastikan guru anak Anda sama seriusnya atas masalah ini sama seperti Anda. “Harus ada kebijakan tidak ada toleransi di dalam kelas,” kata Dr. Hertenstein.

Satu hal, jika putri Anda mengolok-olok seseorang karena gusar terhadap kelompok teman-temannya. Namun jika dia menjadikan kebiasaan bergosip dengan tujuan tunggal untuk menyakiti orang lain, ada alasan untuk khawatir. “Anda harus melihat frekuensi dan beratnya perilaku tersebut,” kata Dr. Hertenstein, yang mencatat bahwa anak yang bertekad menimbulkan rasa sakit dan tidak merespons disiplin mungkin memiliki oppositional defiant disorder atau kelainan antisosial. Apapun itu, jika penggencetan fisik terjadi, selalu ada alasan untuk khawatir.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA