Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Tahun Baru Imlek

Vihara Avalokitesvara, Simbol Kerukunan Etnis di Banten

Kamis 26 Feb 2015 09:45 WIB

Rep: C81/ Red: Winda Destiana Putri

Vihara Avalokiteswara

Vihara Avalokiteswara

Foto: Panoramio

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN -- Kehadiran masyarakat etnis Tionghoa mempunyai sejarah yang panjang di tanah Banten. Bahkan, bagaimana toleransi antar budaya, antar agama, dan antar negara dapat tergambarkan melalui kehadiran Vihara Avalokitesvara yang berlokasi di Desa Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Kehadiran Vihara Avalokitesvara sendiri mempunyai sejarah panjang. Dimulai saat Banten yang pada kesultanan Banten mengalami kemajuan yang sangat pesat dan menjadi pusat perdagangan melalui Pelabuhan Karangantunya. Banyak saudagar luar negeri yang segaja mendatangi Banten termasuk saudagar dari Tionghoa, Arab, dan Eropa.

Pada era keemasan Banten itulah, ada seorang puteri asal Cina yang berniat melakukan perjalanan ke Surabaya untuk berdagang. Namun, sengaja berhenti di Banten yang saat itu ramai dengan aktivitas perdagangannya hanya untuk sekedar beristirahat dan mengisi perbekalan.

"Putri Ong Tin Nio bersama para anak buah kapal waktu itu memutuskan untuk bermalam di Pamarica. Karena saat itu daerah Banten, khusunya wilayah kasemen banyak sekali merica," kata Humas Vihara Avalokitesvara, Asaji Manggala Putra, saat ditemui diruangannya, belum lama ini.

Alasan Putri Ing Tin Nio bermalam Pamarica karena persediaan di kapal yang semakin menipis. Dan guna melanjutkan perjalanan dari Negeri Cina menuju Surabaya yang menjadi tujuan awal sang puteri.

Setelah menginap beberapa hari, ternyata sang putri merasa betah untuk tinggal di Banten. Namun, kedatangannya membuat beberapa warga sekitar merasa terganggu dan resah. "Kedatangannya dianggap ancaman merusak tradisi dan kepercayaan masyarakat," terangnya.

Akibatnya, hal ini membuat pergesekan semakin memanas atara pribumi dn pendatang dari Tiongkok. Ditambah, pada saat itu, puteri membangun vihara yang pada awalnya berada di bekas kantor bea (douane) yang digunakan untuk sembahyang orang Cina.

Kehadiran vihara ini membuat masyarakat di Banten waktu itu ingin mengusir para orang Cina, karena bisa merusak keimanan masyarakat Islam waktu itu. "Dari situlah figur Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati mengambil perannya dengan melakukan mediasi antara warga dengan Sang Putri," jelasnya.

Sunan Gunung Jati menegur keras masyarakat Banten, karena tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Khususnya memaksa warga pendatang harus memeluk Islam. Hingga pada akhirnya, Sunan Gunung Jati hanya sebatas menawarkan kepada Putri Ong Tin Nio dan rombongannya untuk memeluk Islam tanpa ada paksaan.

Sehingga, salah seorang pengawal Sunan Gunung Jati menyarankan agar Putri Ong menjadi mualaf dan menikah dengan Sunan agar masyarakat setempat bisa menghormati sang Putri.

Setelah pertemuan tersebut, membuat Putri Ong 'galau' apakah akan menerima tawaran sang Sunan Gunung Jati untuk memeluk agama baru dan menikah dengannya, karena tenyata sang Putri Ong pun menaruh hati pada Sunan Gunung Jati.

Sehingga pada suatu hari, Putri Ong dan rombongan pun menyatakan diri memeluk agama Islam yang disaksikan langsung oleh Sunan Gunung Jati. Guna menyimbolkan persatuan antara dua agama dan dua kebudayaan yang berbeda, maka Sunan Gunung Jati membuat Masjid Agung Banten Lama dan Vihara yang bernama Avalokitesvara.

"Posisinya yang dekat (Vihara dan Masjid) menandakan hubungan harmonis antara etnis Tionghoa dan penduduk setempat yang memeluk Islam," tegasnya.

Mengenai kedatangan masyarakat Tionghoa ke Banten sendiri terdapat banyak versi, ada yang menyebutkan bahwa masyarakat Cina datang ke Kesultanan Banten sekitar abad 17 masehi. Dimana, pada abad tersebut, banyak ditemukan perahu Cina yang berlabuh di Banten dengan tujuan berdagang dan barter dengan lada.

Berdasarkan catatan sejarah dari J. P. Coen sendiri, banyak perahu Cina yang membawa dagangan senilai 300 ribu real. Dimana, dalam kelanjutannya, masyarakat Cina tak hanya berdagang, tapi bermukim di Banten dengan lebih dari 1.300 kepala keluarga (KK).

Vihara Avalokiteswara sendiri di bangun pada tahun 1652 masehi dan mengalami perpindahan beberapa kali. Seperti di tahun 1659 masehi, Vihara ini menempati Loji Belanda, lalu ditahun 1725 pindah di sebelah selatan menara Masjid Pecinan Tinggi, baru ditahun 1774 hingga kini berlokasi di kampung Pamarican, Desa Pabean, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Perayaan tahun baru Imlek yang ke 2566 ini, Vihara Avalokiteswara sendiri ramai di datangi oleh etnis Cina untuk berdoa dan agar diberi keberuntungan di tahun Kambing.

"Semoga kita semua diberi keberkahan oleh sang maha pencipta. Indonesia pun semakin baik lagi," kata Janto, salah satu pengunjung asal Jakarta yang berdoa di Vihara Avalokiteswara.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA