Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Diet Mediterania, Pilihan Terbaik Mengatasi Obesitas

Selasa 18 Nov 2014 16:07 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Buah serta minyak zaitun merupakan salah satu sumber lemak tak jenuh alami yang sehat.

Buah serta minyak zaitun merupakan salah satu sumber lemak tak jenuh alami yang sehat.

Foto: corbis

REPUBLIKA.CO.ID, Sejumlah dokter terkemuka mengatakan diet mediterania adalah cara yang lebih baik untuk mengatasi obesitas . Hal tersebut diungkapkan mereka dalam  Postgraduate Medical Journal (PMJ).

Menurut mereka, diet Mediterania juga dapat mengurangi risiko serangan jantung dan stroke dengan cepat. Mereka mengatakan cara itu mungkin lebih baik daripada diet rendah lemak untuk menurunkan berat badan secara berkelanjutan seperti yang dikutip dari laman BBC, Selasa (18/11).

Pejabat resmi Layanan Kesehatan Nasional Inggris, NHS, menyarankan untuk memantau asupan kalori demi menjaga berat badan yang sehat. Bulan lalu sejumlah pimpinan NHS menekankan perlunya tindakan mendesak untuk mengatasi obesitas dan sejumlah masalah kesehatan yang seringkali saling berkaitan.

Sementara Editorial PMJ berpendapat bahwa memperhatikan asupan makanan adalah pendekatan terbaik, lain halnya dengan diet yang cenderung membahayakan. Ketua  Academy of Medical Royal Colleges, Prof Terence Stephenson, dan dokter senior NHS Inggris, Dr Mahiben Maruthappu, adalah sejumlah peneliti yang ikut menyetujui penelitian itu. Mereka mengkritik industri penurunan berat badan yang terpusat pada pembatasan kalori daripada memperhatikan gizi yang baik.

Diet Mediterania terinspirasi dari masakan tradisional dari negara-negara seperti Yunani, Spanyol dan Italia. Diet Mediterania telah lama berhubungan dengan kesehatan. Biasanya, ini terdiri dari sayuran yang berlimpah, buah segar, sereal biji utuh, minyak zaitun dan kacang-kacangan, serta unggas dan ikan. Diet ini berdampak pada kesehatan mereka sangat cepat dan mengurangi resiko serangan jantung dan stroke.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA