Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Mengobati TB dengan Mengkudu dan Jahe Merah

Senin 07 Apr 2014 15:00 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Jus Mengkudu (ilustrasi).

Jus Mengkudu (ilustrasi).

Foto: en.made-in-china.com

REPUBLIKA.CO.ID, Tuberkolosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius bagi warga dunia. Beban permasalah TB di Indonesia berkontribusi cukup signifikan terhadap beban permasalahan TB di tingkat global, yakni sekitar enam persen. Sampai saat ini, Indonesia termasuk empat negara dengan beban permasalahan TB tertinggi di dunia.

Indonesia saat ini berada di peringkat keempat setelah India, Cina, dan Afrika Selatan.

Setiap tahunnya, terdapat 730 ribu kasus tuberkulosis di Indonesia. Kabar baiknya adalah dari 1990 sampai 2012, kasus tuberkulosis terus mengalami penurunan secara signifikan, baik melalui pendeteksian dini maupun pengobatannya.

Obat antituberkulosis (OAT) merupakan obat utama dalam pengobatan TB. Selain diberikan OAT, pasien TB juga dapat diberikan obat herbal sebagai komplementer.

Penelitian yang dilakukan oleh Fathiyah Isbaniah, Heidy Agusti, Priyanti Soepandi, dan Erlina Burhan dengan peneliti utama Arifin Nawas mendapatkan hasil bahwa kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe merah efektif sebagai ajuvan, yakni pengobatan tambahan untuk mening katkan efektivitas terapi primer pengobatan TB.

Penelitian tersebut dilakukan di Rumah Sakit Persahabatan dengan total responden 100 pasien yang sebagian besar berusia kurang dari 31 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan tidak merokok. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, yaitu penggunaan terapi OAT dengan kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe merah dan OAT dengan plasebo.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan, dalam waktu kurang atau sama dengan enam minggu, kelompok kombinasi mengkudu dan jahe merah mengalami konversi, yakni ada perubahan basil tahan asam (BTA) positif ke BTA negatif lebih cepat dibandingkan kelompok plasebo. Percepatan konversi dapat mengurangi penularan TB.

Dari hasil penelitian tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Arifin Nawas, merekomendasikan pemberian suplemen kombinasi ekstrak mengkudu dan jahe merah. Tentunya, suplemen ini posisinya hanya sebagai terapi tambahan kepada pasien yang sedang menjalani pengobatan sesuai panduan TB nasional.

“Masih diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah subjek yang lebih besar dan pemeriksaan status imunologi (sistem imun) yang lebih lengkap untuk menguak khasiat herbal tersebut,” papar Arifin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA