Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Studi Temukan Media Sosial tak Membuat Bahagia

Rabu 15 May 2019 13:46 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Indira Rezkisari

Media sosial

Media sosial

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Apa yang dilihat di media sosial mungkin versi realitas yang berlebihan.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah studi ditemukan bahwa media sosial  dapat membelokkan persepsi sesorang tentang kenyataan. Tak hanya itu, media sosial juga mungkin merusak beberapa peristiwa paling penting dalam kehidupan.

Dilansir dari The Independent, menandai Pekan Kesadaran Kesehatan Mental yang jatuh pada 13 sampai 19 Mei, Klinik Kesehatan Bupa melakukan survei Census Wide terhadap 2.266 orang dewasa di Inggris pada April lalu. Survei itu ditujukan untuk mengetahui bagaimana media sosial mempengaruhi cara orang Inggris merasakan peristiwa besar dalam kehidupan.

Organisasi menemukan, satu dari 10 responden merasa tidak bahagia tentang suatu peristiwa atau momen penting dalam hidup mereka sebagai akibat langsung dari media sosial. Selain itu, lebih dari satu dari sepuluh orang (13 persen) telah menghindari mengunggah gambar di jejaring sosial karena pengalaman mereka tidak sebagus yang lain.

Menurut penelitian, mereka yang disurvei mengatakan, mereka merasa sedih atau kecewa setelah membandingkan pengalaman mereka tentang tonggak sejarah dengan orang lain di media sosial.

Hasil penelitian menunjukkan, 85 persen orang mengatakan mereka merasakan hal ini ketika kembali bekerja setelah melahirkan. Sementara sebanyak 70 persen mengatakan itu terjadi ketika memulai pekerjaan pertama mereka, dan sebanyak 64 persen mengaku merasa rendah setelah mendapat promosi dan melihat orang lain merayakan  promosi mereka sendiri di platform sosial.

"Sangat penting untuk memahami bahwa menjaga kesejahteraan fisik dan mental sebelum, selama dan setelah peristiwa besar, sangat penting untuk menikmati momen itu sendiri," kata direktur medis Klinik Kesehatan Bupa, Dr Arun Thiyagarajan.

Dia melanjutkan, media sosial juga dapat berdampak pada citra tubuh dan kepercayaan diri. Entah ini melihat pembaruan penurunan berat badan yang konstan atau foto liburan selebritas. Hal itu, kata dia, bisa berpengaruh pada cara memandang tubuh sendiri.

"Sangat penting untuk diingat bahwa apa yang Anda lihat di media sosial mungkin versi realitas yang berlebihan. Pada titik ini, ketika Anda merasa secara fisik dan mental menurun, bahwa melihat pengalaman orang lain yang tampaknya sempurna dari tonggak yang sama dapat memiliki efek buruk pada kesehatan mental Anda,” tutur dia.

Jawaban membeli rumah yaitu sebanyak 55 persen, pensiun sebanyak 53 persen, dan berlibur besar sebanyak 43 persen, juga dicatat sebagai momen penting yang membuat negara tersebut mengalami suasana hati yang rendah, begitu mereka membandingkan diri mereka dengan apa yang dilakukan orang lain di media sosial.

Mayoritas, sebanyak 86 persen responden juga setuju  masyarakat memberi terlalu banyak tekanan karena memamerkan. Dan lebih dari setengah atau sebanyak 58 persen percaya unggahan media sosial selebritas menciptakan harapan yang tak terjangkau dari sebuah kunci hidup.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA