Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

India Targetkan Industri Wisata Medis Rp 127 T pada 2020

Senin 18 Feb 2019 12:09 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Kesehatan dan Dokter (ilustrasi).

Kesehatan dan Dokter (ilustrasi).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
India menggembar-gemborkan fasilitas canggih dan pengobatan tradisional.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Ada banyak alasan orang pergi ke India, seperti budaya, makanan, dan cuaca. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, faktor lain yang menarik pengunjung adalah perawatan kesehatan.

Baca Juga

Dikutip di CNN, menurut angka Kementerian Pariwisata, industri pariwisata medis India dapat tumbuh 200 persen pada 2020 atau mencapai Rp 127 triliun. Ketika mencoba memperluas industri, negara ini berusaha membuat orang lebih mudah datang karena alasan medis. India menggembar-gemborkan fasilitas canggih, dokter terampil, perawatan murah, dan praktik tradisional, seperti yoga dan ayurveda.

"India dapat memberikan perawatan medis dan kesehatan dengan standar internasional dengan biaya rendah," kata Menteri Pariwisata India KJ Alphon.

Dia juga mengatakan India unggul dalam fasilitas medis canggih, profesional perawatan kesehatan terkenal, fasilitas perawatan berkualitas, dan terapi kesehatan tradisional. Pada 2015, India mendapat peringkat sebagai tujuan wisata medis paling populer ketiga ketika industri itu bernilai Rp 42,3 Triliun.

Jumlah wisatawan asing yang datang ke negara itu dengan visa medis mencapai hampir 234 ribu tahun itu. Pada 2017, jumlah kedatangan lebih dari dua kali lipat menjadi 495.056.

Aturan visa juga telah diubah untuk mendorong lebih banyak orang datang. "Visa e-turis telah diperluas untuk mencakup kunjungan medis juga. Visa petugas medis telah diperkenalkan untuk memudahkan proses perjalanan wisatawan medis. Durasi maksimum tinggal di India di bawah visa e-medis enam bulan," kata Alphons.

"Namun, penting untuk berhati-hati dalam hal prediksi," kata seorang profesor kebijakan dan sistem kesehatan, Johanna Hanefeld di London School of Hygiene dan Tropical Medicine.

Salah satu tantangannya adalah angka-angka yang dikutip berdasarkan pada sektor swasta. Ini adalah individu perorangan yang membayar penyedia swasta. Setiap tipe angka cenderung relatif spekulatif.

"Gelombang prediksi awal adalah analisis dan penelitian bisnis dan didasarkan pada pemikiran orang-orang pergi pada biaya dan kualitas saja, dan pada dasarnya menjadi dunia dengan batas yang menghilang, ini adalah area pertumbuhan," kata Hanefeld.

Dalam lima tahun terakhir, prediksi ini telah diturunkan karena kesehatan adalah masalah yang sulit dan orang membuat keputusan berdasarkan sejumlah alasan seperti budaya, kedekatan atau persepsi perawatan. Menurutnya, ini bukan keputusan rasional yang semata-mata didasarkan pada ekonomi.

Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan menggambarkan wisatawan medis sebagai mereka yang bepergian melintasi perbatasan internasional dengan maksud menerima beberapa bentuk perawatan medis. Ini mencakup berbagai layanan medis tetapi paling sering mencakup perawatan gigi, bedah kosmetik, bedah elektif, dan perawatan kesuburan. Orang mengunjungi India untuk berbagai kebutuhan perawatan kesehatan, termasuk perawatan kanker, transplantasi, dan operasi jantung.

Secara global, menurut kelompok advokasi perjalanan medis untuk konsumen Patient Beyond Border, sekitar 14-16 juta pasien bepergian ke luar negara asal mereka untuk mencari pengobatan pada 2017. Pasar pariwisata medis global diperkirakan sekitar Rp 64 triliun hingga Rp 1 kuadriliun.

Tujuan utama lainnya termasuk Malaysia, Singapura, Thailand, Turki, dan Amerika Serikat. Ada tantangan untuk industri global dan konsumen juga, terutama kualitas dan kontinuitas perawatan.

"Tidak ada jaminan kualitas antarnegara," kata Hanefeld. Jadi menurutnya, jika ada yang tidak beres, tidak ada cara untuk pemulihan hukum, apakah ada malapraktik atau komplikasi serius mengikuti prosedur.

Namun, bagi banyak orang, penghematan biaya dapat menjadi daya tarik utama. Penghematan mulai dari 40 persen hingga 90 persen, tergantung pada negara.

Di Taiwan, Thailand, Meksiko dan Turki pasien dapat menghemat 40-65 persen pada prosedur dan perawatan. Pada ujung yang lebih tinggi adalah negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan di mana pasien dapat menghemat 25-45 persen pada prosedur.

Di India, penghematan dapat dimulai dari 65 persen dan naik hingga 90 persen dengan pasien yang menerima perawatan berkualitas. "Para dokter India memiliki reputasi untuk pelatihan medis berkualitas tinggi. Banyak dari mereka adalah orang-orang India yang kembali setelah belajar di luar negeri," kata Hanefeld.

Bagi penyedia perawatan kesehatan swasta India, pariwisata medis adalah bisnis yang menguntungkan. Pada 2018, Max Healthcare, salah satu rumah sakit swasta, merawat hingga 50 ribu pasien asing dengan mayoritas melakukan perjalanan dari Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika.

"Pasien sering datang untuk perawatan khusus yang membutuhkan peralatan atau keahlian khusus," kata Sonika Raina, perwakilan untuk Max Healthcare.

Raina menjelaskan, itu termasuk operasi jantung kelas atas, bedah jantung anak, perawatan kanker, bedah saraf, bedah tulang belakang, transplantasi, bedah bariatrik, bedah ortopedi terkait trauma, dan bayi tabung. Hampir 10 persen dari keseluruhan pendapatan berasal dari pasien asing. Banyak pasien di India berasal dari negara tetangga dan negara berkembang lainnya.

"Ada juga pasar diaspora besar, seperti orang-orang Inggris, tetapi lahir dari orang tua India," kata Hanefeld.

photo

Yoga. Ilustrasi

Praktik kesehatan tradisional

Praktik kesehatan tradisional India seperti ayurveda, yoga, unani, siddha dan homeopati sekarang juga dipromosikan untuk meningkatkan jumlah wisatawan medis. Ayurveda adalah sistem pengobatan Hindu kuno yang didasarkan pada gagasan keseimbangan dalam tubuh. Ini menggunakan pengobatan herbal dan pernapasan yoga.

Siddha dan unani serupa dalam pendekatan holistik untuk menemukan harmoni antara pikiran dan tubuh. Asal-usul siddha terletak di negara bagian selatan Tamil Nadu, sedangkan Unani dari zaman Yunani kuno.

Semua ini berada di bawah Kementerian Ayush, sebuah lembaga pemerintah yang dibentuk pada 2014 untuk meningkatkan akses dan kesadaran akan metode tradisional. Industri Ayush India diperkirakan bernilai sekitar Rp 34 triliun pada 2014 hingga 2015.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA