Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Thursday, 18 Ramadhan 1440 / 23 May 2019

Orang Narsis Cenderung tak Peduli Demokrasi

Selasa 11 Dec 2018 09:41 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: The Guardian
Orang narsis merasa berhak dan lebih unggul dari orang lain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian baru menunjukkan orang yang mengalami gejala narsisme cenderung kurang mendukung demokrasi. Dilansir di Psych Central, menurut para peneliti dari University of Kent di Inggris dan Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, orang yang narsistik merasa demokrasi bukan sistem yang baik dalam menjaga ketertiban.

Mereka merasa negara-negara akan lebih baik jika dijalankan oleh pemimpin atau militer yang kuat. Para peneliti mengungkapkan, hal ini dikarenakan orang narsis merasa berhak dan lebih unggul dari orang lain yang akhirnya membuat minim toleransi terhadap beragam pendapat politik.

Temuan penelitian lainnya menyatakan orang yang memiliki cara pandang yang positif dan tidak membela diri serta mempercayai orang lain akan lebih mendukung sistem demokrasi. Penelitian ini terdiri dari dua bagian yang menganalisis hubungan antara berbagai jenis evaluasi diri, yaitu narsisme dan harga diri, dan dukungan untuk demokrasi di Amerika Serikat dan Polandia.

Para peneliti, yang dipimpin Aleksandra Cichocka dari Sekolah Psikologi Kent dan Marta Marchlewska dari Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, memahami mekanisme psikologis yang mendorong dukungan untuk demokrasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan sifat-sifat kepribadian dasar dapat memprediksi pendapat yang lebih luas tentang organisasi dunia sosial.

"Entahlah apakah generasi baru akan lebih narsistik daripada yang sebelumnya atau tidak, tetapi penting untuk memantau bagaimana perubahan masyarakat dapat mempengaruhi diri," kata Cichocka.

Dia memastikan tidak membina perasaan hak atau memberikan perlakuan khusus. Menurutnya, proses-proses ini pada akhirnya memiliki implikasi penting bagi sikap sosial dan politik. Studi ini dipublikasikan di British Journal of Social Psychology.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA