Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Kampus di Cina Ramai-Ramai Buka Kelas Pernikahan

Senin 18 Feb 2019 08:43 WIB

Red: Ani Nursalikah

Pernikahan.   (ilustrasi)

Pernikahan. (ilustrasi)

Foto: Republika/ Wihdan
Pernikahan dan rumah tangga merupakan salah satu persoalan pelik bagi warga Cina.

REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- Sejumlah perguruan tinggi di Cina ramai-ramai membuka kelas konsultasi percintaan dan pernikahan. Pembukaan kelas tersebut setelah banyak mahasiswa gagal memahami arti cinta dan minder saat harus membicarakannya lebih dalam dengan orang tua mereka.

Baca Juga

East China Normal University di Shanghai pada 2013 memberikan mata kuliah pilihan untuk mengatasi problem pernikahan dan percintaan. Menurut data People's Daily, Senin (18/2), kelas tersebut sebenarnya diproyeksikan hanya untuk 84 mahasiswa dan mahasiswi, namun yang mendaftar hampir 500 orang.

Zhengzhou Normal University, Tianjin University, dan Nanjing University yang masing-masing berada di Provinsi Henan, Kota Tianjin, dan Provinsi Jiangsu turut membuka kelas khusus untuk memberikan pelajaran bagaimana mencintai dan dicintai. Prof Xia Cuicui, yang mengajar pelayanan dan konseling psikologi di Beijing Normal University mengatakan para mahasiswa biasanya memiliki sedikit waktu mempelajari psikologi percintaan yang terkandung dalam mata kuliah kesehatan psikologi dan mental.

Tujuan pembukaan kelas khusus itu, menurut dia, bukan untuk melatih para mahasiswa agar kelak menjadi pakar percintaan, melainkan membantu mereka mengerti lebih banyak tentang cinta, perasaan manusia, dan relasi sehingga mereka bisa mengatasi persoalan asmara yang menderanya.

Mata kuliah tersebut juga membantu para mahasiswa membangun perilaku positif dalam percintaan dan pernikahan sehingga mereka lebih baik dalam menjalin hubungan, lebih baik dalam mempersiapkan kehidupan berumah tangga, lebih mampu menciptakan keluarga bahagia, dan hidup dalam kebersamaan menjadi lebih berkualitas.

Beberapa dosen senior psikologi menyarankan orang tua tetap tenang saat mendapati anak-anaknya mulai berpacaran dengan tetap menjalin komunikasi, memberikan saran, dan mengoreksi pola pikir yang tidak sehat soal percintaan dan pernikahan. Pernikahan dan rumah tangga merupakan salah satu persoalan pelik bagi warga Cina. Tidak sedikit warga Cina yang usia pernikahannya relatif pendek karena lemahnya landasan cinta yang dibangun sebelum memutuskan berumah tangga.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA