Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Wednesday, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 January 2019

Alasan Beralih dari Sabun Cair ke Sabun Batang

Sabtu 12 Jan 2019 18:41 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Ani Nursalikah

Sabun batang.

Sabun batang.

Foto: Flickr
Anggapan sabun batang sebagai sarang kuman adalah salah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sabun adalah pembersih yang ampuh menghilangkan kotoran dan kuman yang menempel di permukaan tubuh. Sabun batangan menjadi pilihan utama masyarakat hingga popularitasnya mulai tergeser oleh sabun cair di era 1990-an.

Akan tetapi data dari Kantar Worldpanel menunjukkan penjualan sabun batang di Inggris pada September 2018 menunjukkan peningkatan. Para pembeli di supermarket menghabiskan uang hingga 68,3 juta poundsterling untuk sabun batang atau naik dua juta poundsterling dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Tim Nancholas selaku Strategic Insight Director di Kantar Worldpanel mengatakan pertama kalinya di abad ini penjualan sabun meningkat. "Setelah sabun batang lama ditinggalkan karena kalah populer dengan sabun cair dan gel, kini permintaannya kembali naik. Bisa jadi itu adalah awal dari tren penggunaan peralatan kebersihan yang lebih alami dan ramah lingkungan. Sabun batang lebih sedikit menggunakan plastik daripada sabun cair," katanya dikutip dari The Telegraph.

Ada sebagian orang yang menilai sabun batang adalah sarang kuman karena dipakai berganti-gantian oleh banyak orang. Padahal anggapan itu salah besar. Sabun tidak akan mentransfer kuman atau bakteri sehingga bisa berpindah ke orang lain. Baik sabun batang maupun cair keduanya memberikan efek kebersihan yang sama.

Sabun cair banyak dipilih orang karena lebih praktis. Namun, kepraktisan tersebut harus dibayar dengan dampak lingkungan yang lebih besar. Editor bidang keberlanjutan lingkungan di Mind Body Green, Emma Loewe, menuturkan penggunaan sabun batang lebih ramah lingkungan ketimbang sabun cair.

"Kemasan plastik sabun cair menyebabkan lebih banyak pencemaran. Masyarakat di Amerika Serikat memproduksi 270 sampah botol sabun cair setiap tahunnya," ungkapnya dilansir Mindy Body Green.

Sabun cair juga punya bobot yang lebih berat daripada sabun batang sehingga ongkos transportasinya lebih mahal. Ini artinya makin banyak energi yang diperlukan untuk mendistribusikan produk sabun cair.

"Ditambah lagi kita dengan mudah membeli sabun cair baru dalam botol setiap kali sabun di kamar mandi habis," kata Loewe. Sebuah penelitian investigasi menemukan satu batang sabun menciptakan jejak karbon 25 persen lebih sedikit daripada sabun cair.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES