Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Embun Upas Jadi Daya Tarik Wisatawan ke Gunung Semeru

Selasa 25 Jun 2019 20:39 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Fenomena embun beku di Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru (TNBTS).

Fenomena embun beku di Taman Nasional Bromo, Tengger dan Semeru (TNBTS).

Foto: dok. Humas BB TNBTS
Para pendaki selalu berswafoto ketika menjumpai embun upas di Gunung Semeru.

REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG, JAWA TIMUR -- Embun pagi yang membeku atau dikenal dengan sebutan embun upas menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang melakukan pendakian ke Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Khususnya pada musim kemarau saat ini.

"Para pendaki selalu berswafoto ketika menjumpai embun upas yang merupakan fenomena alam yang menarik untuk diabadikan di sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru," kata Agus, salah seorang pendaki gunung, yang ditemui di Kabupaten Lumajang.

Menurutnya, embun upas biasanya dapat ditemukan di beberapa titik di kawasan gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut pada saat musim kemarau karena suhu udara nol derajat, sehingga para pendaki juga harus mewaspadai cuaca ekstrem yang sangat dingin tersebut.

"Fenomena alam embun upas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki di Gunung Semeru, apalagi saat ini musim liburan sekolah," katanya.

Sementara itu, Kepala Resort Ranu Pani Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Susion mengatakan, embun upas dapat ditemukan di sepanjang jalur pendakian Gunung Semeru di kawasan Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Jambangan, Cemoro Kandang, dan Kalimati saat pagi hari.

"Setiap hari jumlah wisatawan yang melakukan pendakian di Gunung Semeru selama liburan sebanyak 600 orang sesuai dengan kuota yang diberlakukan dan menggunakan sistem booking daring, serta tahun ini sudah menggunakan sistem virtual account," katanya.

Ia mengimbau para pendaki untuk menyiapkan fisik dan mental yang prima saat melakukan pendakian ke gunung yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl tersebut, sehingga kondisi kesehatan pendaki harus benar-benar sehat.

"Saat musim kemarau, suhu udara di Gunung Semeru cukup dingin, sehingga pendaki juga harus membawa baju hangat, makanan, dan obat-obatan ringan harus tersedia di setiap rombongan, apabila ada pendaki yang mengalami sakit saat perjalanan," katanya.

TNBTS membuka kembali jalur pendakian Gunung Semeru untuk umum pada 12 Mei 2019 setelah ditutup sejak 3 Januari 2019 karena cuaca buruk dan pemulihan ekosistem di kawasan tersebut.

Batas pendakian terakhir yang direkomendasikan oleh Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Semeru, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi ( PVMBG), yakni di Pos Kalimati dengan ketinggian 2.700 mdpl, sehingga para pendaki tidak direkomendasikan untuk melanjutkan pendakian hingga puncak Semeru (Mahameru) dengan alasan keselamatan.

"Kami imbau pendaki mematuhi rekomendasi tersebut dan tidak nekat naik ke Mahameru karena berbahaya, serta kami imbau pendaki juga menjaga kebersihan di sepanjang jalur pendakian agar terwujud zero accident dan zero waste di gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut," demikian Susion.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA