Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Wednesday, 20 Zulhijjah 1440 / 21 August 2019

Lihat Festival Tertua di Papua, Tiket Pesawat Mulai 1 Jutaan

Selasa 25 Jun 2019 08:08 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Festival Baliem

Festival Baliem

Foto: Widodo S Jusuf/Antara
Ada 23 hotel yang siap menampung bagi pengunjung festival Baliem Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pulau paling timur di Indonesia yaitu Papua memiliki segudang kekayaan budaya maupun destinasi. Tidak hanya Raja Ampat dengan keindahan dalam lautnya, Papua juga memiliki festival tertua bernama Festival Lembah Baliem. Festival memasuki edisi ke-30 dan akan digelar 7-11 Agustus nanti.

Baca Juga

Naftali Rumbiak selaku Kabid Destinasi dan Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya mengatakan wistawan sudah tidak perlu khawatir terkait penerbangan. Saat ini sudah banyak pilihan maskapai yang tentunya menawarkan harga beragam.

"Penerbangan langsung ke Wamena dan harga tiket ada mulai dari Rp 1 jutaan dan tentunya pilihan yang mahal juga ada. Tapi bayar tiket berapa pun tidak akan menyesal kalau sudah melihat ke sana," kata dia di Jakarta.

Untuk turis mancanagara bahkan dianggap tidak terlalu terpengaruh dengan tiket pesawat mahal. Naftali mengatakan perbaikan infrastruktur dan penambahan akomodasi juga tentunya terus dilakukan. Kurang lebih ada 23 hotel yang siap menampung dengan beberapa di antaranya menawarkan kualitas yang sudah bagus.

Sementara itu, banyak turis yang memang lebih senang menginap dan berbaur bersama warga secara langsung. Pemerintah juga menyediakan Kampung Wisata agar turis bisa merasakan langsung aktivitas keseharian warga dari pagi sampai malam.

"Dan kampung wisata ini setiap tahun selalu penuh," lanjut dia.

Kemudian ada Night Market yang memungkinkan semua turis yang datang bisa menikmati kuliner khas maupun nasional. Pasar dibuat di depan halaman kantor bupati.

Tidak ketinggalan, kampus festival, di mana turis bisa belajar menganyam, membuat rajutan noken atau tas khas Papua. Ada benang yang disediakan untuk merajut satu sampai dua hari atau turis bisa melanjutkannya di rumah.

"Yang penting tahu cara menganyam. Kemudian ada pasar festival bagi yang ingin membeli aksesori dan lainnya," tambahnya.

Hal yang spesial dari tahun ini, termasuk pemecahan rekor noken atau tas khas Papua raksasa dengan panjang 30 meter. Selain itu, pengunjung bisa menikmati paralayang dengan ketinggian tertinggi di sana, 2.400 mdpl selama satu jam, melihat tradisi memasak menggunakan uap bakar bbat. Dari uap hasil membakar batu, bisa memasak berbagai bahan makanan mulai dari ubi-ubian, sayuran hingga daging.

Tahun lalu, tidak kurang ada 3.000 wisatawan yang tercatat, 2.000 di antaranya turis dalam negeri. Dari dalam negeri, banyak berasal dari Makassar, Yogya, sedangkan dari Asia, terbanyak yaitu Singapura, Cina, dan Jepang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA