Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Jepang Larang Turis Coret-Coret di Pasir Totori

Jumat 24 May 2019 13:24 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Indira Rezkisari

Pantai Totori di Jepang.

Pantai Totori di Jepang.

Foto: Wikipedia
Turis yang kedapatan mencoret di pasir bisa didenda Rp 6,6 juta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasanya tak lengkap bila pergi ke pantai atau bukit pasir tanpa mencoret pasir dengan nama kita, setidaknya untuk difoto. Tapi ternyata, di beberapa lokasi wisata dunia, mencoret pasir dianggap mengotori lingkungan.

Baca Juga

Dilansir dari laman Travel and Leisure, Jumat (24/5), ootoritas lokal di Jepang menggandakan upaya mereka untuk menghentikan siapa pun dari menulis pesan dan tindakan menjengkelkan lainnya, di sepanjang garis pantai Tottori. Pantai Totori adalah kawasan wisata berupa bukit pasir terkenal yang ditemukan di taman nasional San-in Coast. Kawasan wisata itu mendapat jutaan pengunjung setiap tahun.

Menurut Mainichi Shimbun, jumlah pengunjung yang menginap di Tottori mencapai 3,29 juta pada 2018. Akan tetapi, tidak jelas apakah semua pengunjung mengunjungi bukit pasir.

Sayangnya, begitu banyak pengunjung juga dapat menyebabkan masalah bagi lingkungan. Pada 2008 lalu, pemerintah telah menyadari masalah coretan pasir yang kerap dilakukan oleh pengunjung.

Setelahnya, mereka mengeluarkan peraturan yang mengatakan siapa pun yang tertangkap menulis pesan pasir lebih besar dari 10 meter persegi, maka akan menghadapi denda 50 ribu Yen Jepang, atau sekitar Rp 6, juta. Rupanya, ini tidak menghalangi pengacau pasir.

Menurut The Guardian, ada lebih dari 3.300 insiden graffiti pasir dalam dekade terakhir. Pada 2018, ditemukan ada lebih dari 200 graffiti.

Satu contoh khusus Januari lalu melibatkan seseorang yang menulis "Selamat Ulang Tahun, Natalie" di ruang yang panjangnya sekitar 25 meter. Pasangan itu diperintahkan untuk menghapusnya sendiri. Akan tetapi sebagian besar waktu, grafiti dihapus oleh relawan dan pekerja pemerintah.

Untuk mencoba dan mengekang masalah grafiti yang berkelanjutan, para pejabat meningkatkan jumlah tanda peringatan dalam berbagai bahasa. Termasuk Inggris, Cina, dan Korea untuk mencegah pengunjung menulis dari pasir.

Tentu menulis di pasir bukanlah sesuatu yang permanen. Namun, penduduk setempat menganggapnya sebagai gangguan besar dan merusak keindahan alam daerah tersebut.

Menurut The Guardian, ini adalah salah satu dari banyak keluhan yang dimiliki penduduk setempat terhadap wisatawan asing.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA