Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

ASITA: Tiket Pesawat Mahal Masalah Serius Pariwisata NTT

Jumat 17 Mei 2019 16:10 WIB

Red: Christiyaningsih

Suasana Kampung Adat Praijing di Sumba Barat, NTT. Kampung adat di Sumba Barat merupakan salah satu dari sekian banyak destinasi wisata budaya yang saat ini terus dikembangkan pemerintah daerah setempat guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Suasana Kampung Adat Praijing di Sumba Barat, NTT. Kampung adat di Sumba Barat merupakan salah satu dari sekian banyak destinasi wisata budaya yang saat ini terus dikembangkan pemerintah daerah setempat guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah itu.

Foto: Antara
ASITA NTT berpendapat tiket pesawat mahal adalah masalah serius bagi pariwisata NTT

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Abed Frans angkat bicara soal mahalnya harga tket pesawat. Menurutnya tarif transportasi udara yang mahal menjadi masalah serius bagi pengembangan pariwisata di NTT

Baca Juga

"Mahalnya tiket pesawat sejauh ini memang masih menjadi masalah serius bagi pariwisata kita di NTT," katanya di Kupang, Jumat (17/5). Menurut Abed berbagai upaya promosi pariwisata yang dilakukan untuk peningkatan kunjungan wisatawan tidak memberi dampak yang signifikan jika biaya perjalanan mahal.

Ia mencontohkan harga tiket pesawat rute Jakarta-Kupang yang masih berkisar di harga Rp 2,5 juta hingga Rp3 jutaan. Selain itu, tarif tiket pesawat dari Kota Kupang ke daerah-daerah kabupaten juga bisa mencapai di atas Rp 1 juta.

"Selain tarif mahal, ada maskapai yang mulai mengurangi frekuensi penerbangan bahkan ada yang meniadakan," katanya. Perihal tiket adalah masalah serius apalagi NTT belum punya penerbangan langsung ke luar negeri sehingga sulit meningkatkan kunjungan wisatawan asing.

Menurut Abed, ketika tarif penerbangan masih mahal maka berbagai kegiatan pariwisata di daerah-daerah akan sulit dijangkau wisatawan dari luar. "Artinya event yang digelar di daerah jadinya dari kita untuk kita bukan dari kita untuk wisatawan karena animo dari luar kurang," katanya.

Untuk itu ia berharap pemerintah daerah yang terkena dampak mahalnya tarif penerbangan duduk bersama mencari solusi terbaik bersama maskapai di tingkat pusat. "Suara-suara dari pemerintah daerah yang terkena dampak juga harusnya sudah ada sehingga bisa menjadi perhatian serius pihak maskapai," jelasnya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA