Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Batu Angkek-Angkek, Batu yang Beratnya Berubah-ubah

Sabtu 16 Feb 2019 17:17 WIB

Rep: febrian fachri/ Red: Dwi Murdaningsih

Objek wisata Batu Angkek-Angkek di Desa Balai Tabuh, Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Objek wisata Batu Angkek-Angkek di Desa Balai Tabuh, Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat

Foto: Republika/Febrian Fachri
Jenis batu ini belum diketahui oleh para peneliti.

REPUBLIKA.CO.ID, TANAHDATAR -- Batu Angkek-Angkek adalah salah satu wisata yang unik di Tanah Datar. Batu angkek-angkek terletak di Desa Balai Tabuah, Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi  Sumatera Barat. Jarak desa ini sekitar 7,5 kilometer dari Kota Batusangkar.

Hadi Putra Lagani, salah satu pengelola objek wisata batu angkek-angkek ini mengatakan jenis batu ini tidak bisa diketahui oleh para ahli dan ilmuan sampai sekarang. Karena batu sejenis ini tidak pernah ditemukan di manapun. Hadi menjelaskan, penelitian dilakukan para ahli baru sebatas menguji berat batu itu saja. Berat itupun tidak konstan.

Hadi mengatakan berat baru angkek-angkek ini tidak pernah sama. Terkadang beratnya 10 kg. Terkadang 100 kg, pernah juga sampai 500 kg. Paling parah kata Hadi batu angkek-angkek pernah bikin timbangan hancur karena beratnya sangat luar biasa tidak terukur.

“Jenis material batu ini belum bisa dipastikan. Terlalu banyak versi. Penelitian mentok pada beratnya saja,” ucap Hadi.

Berawal dari Mimpi Dt Bandaro Kayo
Sekitar 500 tahun lalu, seorang kepala kaum dari suku Piliang Datuak (Dt) Bandaro Kayo mengalami mimpi bertemu dengan Sykeikh Achmad. Dalam mimpinya itu, Syeikh Achmad menyuruh Dt Bandaro Kayo mendirikan sebuah perkampungan. Sekarang nama kampung itu bernama kampung Palangan. Pendirian kampung itu diawali dengan pembangunan sebuah rumah gadang sebagai pusat.

Baca Juga

Saat mendirikan tonggak utama rumah gadang itu, terjadi peristiwa aneh. Selama 14 hari 14 malam di kampung Palangan, yakni sering terjadi gempa bumi lokal dan hujan panas bergantian. Karena peristiwa itu dirasa aneh oleh kaum Dt Bandaro Kayo, kemudian diadakanlah musyawarah untuk mengambil keputusan kelanjutan pembangunan kampung.

Saat musyawarah berlangsung terdengar suara gaib dari lobang tempat pemancangan tiang utama rumah gadang. Tidak jelas itu suara siapa. Suara itu mengatakan bahwa ada sebuah batu di dalam lobang tempat pemancangan tiang. Batu itu bernama Batu Pendapatan.

Suara Ghaib dari lobang itu berpesan agar batu pendapatan dijaga dengan sebaik mungkin. Batu ini yang kemudian terkenal dengan nama batu angkek-angkek. Hadi mengatakan nama asli batu itu tetaplah batu pendapatan. Batu angkek-angkek merupakan nama yang dipopulerkan oleh pengunjung.

Dari kisah yang diceritakan turun temurun, kata Hadi  batu pendapatan awalnya berbentuk jengkol. Masyarakat kaum Dr Bandaro Kayo hanya bisa mengambil sebagian atas. Sebagiannya lagi tidak bisa terangkat. Cerinya ketika semua orang kampung berusaha mengankatnya, tanah semakin amblas ke dalam. Jadinya mereka membiarkan batu itu tetap di dalam lobang. Sekarag Sebagian batu yang tidak terangkat itu tidak pernah lagi ditemukan. Dan tidak ada yang mencoba mencarinya lagi.

Jadi Obek Wisata Sejak Tahun 80
Sejak  ratusan tahun lalu, sudah banyak masyarakat mengetahui keajaiban batu angkek-angkek ini. Tapi pemerintah baru menjadikannya sebagai objek wisata dan cagar budaya yang harus dilindungi sejak tahun 1980.

Sejak saat itu, pengunjung batu angkek-angkek semakin ramai setiap tahun. Bahkan sampai sekarang, batu angkek-angkek selalu didatangi wisatawan yang datang ke kabupaten Tanah Datar. Ada ungkapan mengatakan, tidak lengkap rasanya ke Tanah Datar kalau tidak mencoba mengangkat batu angkek-angkek.

Hadi mengatakan generasi dari Dt Bandaro Kayo sudah putus. Sekarang Hadi dan keluarganya bertindak sebagai pengelola. Agar batu ini tetap terawat, pengelola batu angkek-angkek selalu membersihkan batu ini dengan air biasa agar tidak dihinggapi kuman. Mereka tidak ingin pengangkat batu dihinggapi penyakit setelah berkunjung.

“Membersihkannya biasa, disiram dan direndam di air di dalam ember, tidak ada ritual khusus” ujar Hadi.

Lantas apakah pembaca Republika.co.id tertarik untuk mencoba mengangkat batu angkek-angkek? Anda bisa datang ke Desa Balai Tabuh, Nagari Tanjung, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. Bagi Anda yang berasal dari luar Sumatera Barat, jarak lokasi batu angkek-angkek ada sekitar 93 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau atau bisa ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam perjalanan darat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA