Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Rabu, 10 Jumadil Awwal 1440 / 16 Januari 2019

Ini Target Wisata Halal Indonesia di 2019

Ahad 09 Des 2018 15:45 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Wisata Halal

Ilustrasi Wisata Halal

Foto: Foto : MgRol112
Kunjungan wisat halal ditargetkan 5 juta turis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mencanangkan dua target wisata halal pada tahun 2019. Pertama, mencapai pertumbuhan tinggi (sustainable growth). Kedua, berada di ranking pertama sebagai destinasi pariwisata paling ramah terhadap wisatawan muslim dunia versi Global Muslim Travel Index (GMTI).

 

Arief mengatakan, pihaknya menargetkan 5 juta wisatawan halal tourism dunia pada tahun depan. Angka itu tumbuh 42 persen dari tahun ini sekitar 3,5 juta. "Target kunjungan wisman halal tourism itu mencapai 25 persen dari target 20 juta kunjungan wisman," katanya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (9/12).

 

Arief mengatakan, Indonesia menargetkan menjadi destinasi wisata halal terbaik dunia 2019 dan menduduki ranking pertama sebagai destinasi pariwisata paling ramah terhadap wisatawan muslim dunia versi GMTI. "Saat ini kita di peringkat ke-2 bersama-sama dengan Uni Emirat Arab, sedangkan sebagai peringkat pertama adalah Malaysia," katanya.

Sumbar Siapkan Jurus Percepatan Wisata Halal

Dengan naiknya Indonesia berada di peringkat pertama, akan memudahkan  Indonesia  dalam merebut pasar wisata  halal global yang diproyeksikan jumlah pengeluarannya mencapai 220 miliar dolar AS pada 2020 mendatang.

 

CEO CrescentRating & Halal Trip Fazal Bahardeen mengatakan, Indonesia mempunyai peluang besar untuk mewujudkan itu. Melihat keindahan alam dan kekayaan budayanya, pariwisata menawarkan peluang pertumbuhan yang besar bagi Indonesia.

"Dengan posisinya sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki infrastruktur inti dan juga lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan muslim," katanya.

 

Direktur Mastercard Indonesia Tommy Singgih mengatakan, Indonesia secara konsisten berusaha meningkatkan posisinya  di GMTI. Pada tahun 2015, Indonesia berada di peringkat enam dunia, tahun 2017 meningkat di peringkat tiga, dan tahun 2018 berada di peringkat ke-2 bersama-sama dengan Uni Emirat Arab.

 

Konsistensi ini terus berlanjut dalam upaya menuju peringkat pertama. Untuk ini, Tommy menjelaskan, Kemenpar bekerjasama Crescentrating–Mastercard meluncurkan program Indonesia Muslim Travel Index. "Program ini untuk menentukan peringkat destinasi wisata halal di Indonesia yang paling ramah terhadap wisatawan muslim," ucapnya.

Kriteria yang ditetapkan sebagaimana yang digunakan oleh Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) yang menggunakan kriteria ACES (Access, Communications, Environment and Services).

 

Ada 10 provinsi yang termasuk dalam indeks (IMTI) tahun ini yaitu Aceh, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lombok (Nusa Tenggara Barat). Dari 10 destinasi tersebut  IMTI menetapkan Lombok berada di peringkat pertama kemudian diikuti Aceh,  dan Jakarta.  Selanjutnya Sumbar, Yogya, Jabar, Jatim, Jabar, dan Sulsel.

 

Menurut laporan GMTI 2018 pengeluaran wisatawan muslim global diproyeksikan mencapai 220 miliar dolar AS pada tahun 2020 dan  diperkirakan akan tumbuh lebih dari 80 miliar dolar AS sehingga mencapai 300 miliar dolar AS pada 2026 mendatang.

Tahun 2017, tercatat ada 131 juta kedatangan pengunjung Muslim secara global atau  naik dari 121 juta pada tahun 2016. Sedangkan, tahun 2020 diproyeksikan tumbuh menjadi 156 juta atau mencapai 10 persen  dari segmen perjalanan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES