Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Thursday, 14 Rajab 1440 / 21 March 2019

Mata Air Baumata Tampilkan Wajah NTT yang tak Tandus

Sabtu 11 Nov 2017 10:43 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Esthi Maharani

Mata Air Baumata, NTT

Mata Air Baumata, NTT

Foto: Christiyaningsih / Republika

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Sejak lama citra Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi yang kering dan kekurangan air masih melekat sampai sekarang. Sebuah produsen air mineral ikut menegaskan citra provinsi yang berbatasan dengan Timor Leste ini melalui sebuah iklan.

Mata air su dekat, bunyi tagline iklan tersebut hingga kini masih terngiang di kepala sebagian masyarakat Tanah Air. Tagline itu ingin menunjukkan bahwa dulu sumber air di tanah Timor sangat jauh dari jangkauan penduduk. Namun bagi masyarakat di Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, NTT, sumber air tak pernah jauh sejak dulu sampai detik ini.

Saat Republika menginjakkan kaki di Desa Baumata, salah satu desa di Kecamatan Taebenu, pemandangan masyarakat yang sibuk mencuci dan mandi di sungai langsung menyambut.

Sungai selebar dua meter ini berair jernih. Kejernihannya menampakkan ikan-ikan kecil yang berenang bergerombol di dasar sungai. Anak-anak dengan riang menceburkan diri ke dalam sungai.

Pemandangan itu mengikis kesan kering dan panas yang selama ini menempel di NTT. Tepian sungai yang dikeramik bersih menunjukkan bahwa sungai tersebut menjadi tumpuan aktivitas masyarakat sehari-hari, terutama mencuci dan mandi.

Air yang mengalir tanpa henti di Kecamatan Taebenu bersumber dari sebuah mata air di Desa Baumata. Mata air Baumata terdapat di dalam gua yang dahulunya merupakan gua persembunyian tentara Jepang. Mata air Baumata mengairi berhektar-hektar sawah dan ribuan rumah penduduk yang ada di empat desa.

Oleh masyarakat setempat, gua Jepang tersebut adalah tempat yang dikeramatkan. Menurut penuturan seorang warga bernama Eva Tanof, setiap tahun di bulan Mei warga dari empat desa mengadakan ritual potong sapi di gua. Ritual ini dinamakan ansimo oel atau adat menerima air.

Ribuan masyarakat berkumpul di sekitar gua untuk memotong sapi dan memasaknya. Hasil olahan sapi wajib dimakan dan dihabiskan di tempat itu juga. "Tidak boleh ada yang tidak makan, semua warga harus makan di situ," ungkap wanita yang sehari-hari bekerja sebagai petani ini.

Tidak ada yang berani melanggar ritual karena bagi warga setempat, gua dan sumber mata air itu sangat dihormati. "Kami tidak tahu apa yang terjadi kalau ada yang melanggar karena selama ini semua patuh," imbuhnya.

Bagi penduduk lokal, ansimo oel merupakan salah satu cara menghormati alam dan leluhur agar air senantiasa mengalir. Warga Taebenu tak pernah mengenal kalimat 'sumber air su dekat' karena memang air takjauh sejak dulu sampai detik ini.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA