Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Manajemen Keuangan Bagi Milenial (1)

Jumat 12 Apr 2019 07:50 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mengatur manajemen aliran keuangan.

Mengatur manajemen aliran keuangan.

Foto: ist
Gaya hidup buat milenial harus memutar otak mengatur keuangannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Waktu pertama kali belajar tentang ilmu ekonomi, ada sebuah prinsip yang sangat populer dan hampir setiap orang hapal di luar kepala. Prinsip ekonomi tersebut adalah dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil sebesar-besarnya.

Sebuah prinsip berpikir kapitalistik yang telah mengakar pada kita bertahun-tahun. Prinsip ini, dalam konteks periklanan masih sangat relevan jika kita jalan-jalan ke beberapa pusat perbelanjaan. Kata 'sakti' tersebut adalah diskon 70 persen.

Padahal, jika kita mau bijak sedikit, yang namanya diskon selalu ada tiap hari.Hanya karena kita sudah dijerat dengan kata 'sakti' tersebut, seakan-akan ada sebuah desakan untuk memilikinya. Sekarang juga.

Dan prinsip ekonomi di atas, menggambarkan bahwa manusia selalu 'mencari nikmat dan menghindari sengsara' adalah sebuah kelaziman di zaman ini.

Pengertian Budgeting
Budgeting berasal dari Bahasa Inggris yang berarti penganggaran, pendanaan atau pembiayaan. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) daring, bujet adalah anggaran pemasukan dan pengeluaran uang/anggaran belanja.

Bisa juga berarti rencana anggaran terperinci sebagai pedoman untuk menjalankan operasi pada masa yang akan datang dan juga digunakan sebagai dasar untuk melakukan penilaian atas pelaksanaannya.

Pertanyaannya, mengapa kita perlu membuat bujet? Tentunya agar bisa mewujudkan mimpi-mimpi keuangan kita.

Sebut saja dua kata kunci gaya hidup anak milenial, yakni:

1. Ingin diakui dalam komunitasnya, misalnya via media sosial
Bagi anak milenial, kuota/pulsa/data internet dengan baterai penuh adalah sebuah kebutuhan. Mereka bisa mati gaya jika tanpa ponselnya.

Konsekuensinya mereka akan tetap eksis, memperlihatkan aktivitasnya agar diakui teman-teman atau di media sosial. Dan itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

2. Ingin punya kepastian secara instan
Jika di zaman 'kolonial' (baca: generasi Baby Boomer dan Gen X), orang perlu berkarier puluhan tahun agar bisa sukses, hari ini di zaman milenial, untuk menjadi sukses itu bisa lebih cepat dan serba instan. Cukup unggah video yang membuat orang 'penasaran' di YouTube. Atau gambar-gambar indah di Instagram dan media sosial yang lain, lalu perbanyak orang yang menonton atau melihatnya, bikin interaksi dengan penonton, maka uang puluhan juta per bulan bukanlah sebuah hal yang aneh yang mereka dapatkan.

Teknologi memudahkan dan memanjakan mereka. Bandingkan dengan anak 'kolonial' yang butuh kerja keras puluhan tahun untuk bisa mencapai pemasukan puluhan juta.

Bagaimanapun, anak-anak milenial ini dengan segala kreativitasnya, membuat berdecak kagum orang-orang di sekitarnya. Maka fenomena selebritas di YouTube, Instagram dan media sosial yang lainnya sudah jamak di masyarakat kita.

Bagaimana cara anak-anak milenial ini membelanjakan uang mereka?

Sahabat, yang namanya pendapatan itu terbatas, sementara keinginan itu tidak terbatas. Bahkan keinginan sudah ada sebelum uangnya ada.

Mari kita bedah dulu piramida tujuan keuangan (Finacial Goal Pyramids) :

1. Cash flow
Apakah selama ini pendapatan kita "besar pasak dari pada tiang"? Lebih banyak mana, pendapatan atau pengeluaran kita?

Jika pengeluaran lebih banyak dari pendapatan, maka melakukan recovery keuangan layak dikemukakan. Pasti ada yang salah dengan manajemen pengelolaan keuangan diri kita.

Jika ternyata pendapatan kita lebih kecil hari ini, berarti kita perlu pindah ke profesi baru atau pendapatan lainnya kita naikkan, jadi tidak cukup dengan 1 pendapatan saja. Jika pendapatan sudah di atas UMR atau bahkan lebih, maka gaya hidup kita perlu dicurigai.

Jangan-jangan, karena gaya hidup inilah pangkal masalahnya. Berarti perlu melakukan terapi diet keuangan, agar cash flow kita menjadi normal kembali.

2. Debt
Jebakan anak-anak milenial yang sudah berpenghasilan adalah ambil dulu barangnya, bayar belakangan dan nanti pikirkan solusinya. Karena aktivitas di atas jadi sebuah pola, maka lama-lama, utang adalah sebuah kebiasaan dan sebuah kewajaran.

Jika tidak dengan utang, kapan lagi punya barang, kilahnya.

Kalau dulu utang itu bernama kartu kredit, hari ini dengan Teknologi FinTech dalam Peer to Peer Lending dan Pay later, sebuah metode memiliki di awal bayarnya nanti, tetapi bisa menjerat selamanya. Terutama bagi yang belum melek keuangan dan tidak bijaksana menggunakannya.

Bayangkan agar di bilang eksis, pola kehidupan konsumtif menjadi 'pameran' kemewahan via media sosial. Padahal, tanpa itupun kita bisa tetap eksis, eksis yang bermartabat artinya eksis yang menghasilkan uang.

3. Saving
Saving atau menabung adalah menyisihkan sebagian uang kita buat masa depan. Beda dengan simpanan yang sebatas menyimpan buat hari ini atau bulan ini saja.

Jika simpanan secara horizon waktunya hanya jangka pendek atau sangat pendek, sementara menabung horizon waktunya untuk jangka menengah. Misalnya kita memiliki uang dari gaji atau komisi atau pendapatan lainnya, kita letakkan uang tersebut di rekening atau amplop di rumah kita, lalu kita belanjakan atau kita ambil uang tersebut untuk kebutuhan rutin harian, pekanan atau bulanan kita, ini kategorinya simpanan.

Sementara jika kita alokasikan buat dana darurat atau aset lancar kita lainnya, ini kategorinya adalah menabung.

Menabung ini, harus kita biasakan layaknya kita menyimpan uang di rekening. Agar sewaktu-waktu kita mau berinvestasi, uangnya sudah tersedia dari hasil kebiasaan menabung.

Untuk investasi dari leher ke atas, kita bisa juga mengambil dari uang tabungan tersebut, yang tidak akan mengganggu uang simpanan buat kebutuhan bulanan kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah secara rutin menabung buat masa depan keuangan kita hari ini?

4. Taxes
Salah satu pendapatan negara berasal dari pajak. Pajak memberikan kontribusi pembangunan ekonomi suatu bangsa.

Pemahaman tentang pajak sebaiknya dipahami setiap individu agar bisa mengefisienkan beban pajak melalui pemilihan alternatif pengenaan pajak dengan tarif yang lebih rendah, misalnya pemberian natura (setiap balas jasa yang diterima atau diperoleh pegawai, karyawan, atau karyawati dan atau keluarganya tidak dalam bentuk uang dari pemberi kerja) kepada karyawan pada umumnya tidak diperkenankan untuk dibebankan sebagai biaya dalam menghitung PPh badan.

Dan strategi dalam tax planning (perencanaan pajak) ini dapat ditempuh untuk mengefisienkan beban pajak kita secara legal. Misalnya dengan memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), menyatukan NPWP suami istri yang sama-sama bekerja dan tidak memiliki perjanjian pemisahan harta.

Apalagi sekarang cara legal mengurangi beban pajak yakni dengan melalui pembayaran zakat atau sumbangan keagamaan.

5. Investment performance
Setiap investasi ada ilmunya, dan setiap investasi memiliki karakteristik yang berbeda.  Selain itu juga, tipikal kita sebagai investor akan menentukan bentuk investasi kita.

Jika dahulu orang tua kita hanya mengenal 3 bentuk investasi, yakni tanah, emas dan padi/palawija, mereka melakukannya berdasarkan melihat hasil orang tuanya. Walau mereka tidak memahami, tapi karena mereka sudah melihat hasilnya, mereka percaya saja untuk berinvestasi.

Hari ini, pilihan investasi tidak saja dalam bidang real asset seperti di atas. Tetapi juga ada yang namanya intellectual asset, portfolio asset, business asset dan lainnya.

Intinya, agar kinerja investasi ini bisa kita pahami, maka harus ada pembandingnya dengan hasil masa lalunya atau investasi sejenis sebagai sebuah panduan, baik fundamental ataupun teknikal.

Minimal, ketika kita berinvestasi kita tahu risiko dan bagaimana meminimalisir risiko tersebut bahkan tahu juga bagaimana mendapatkan imbal hasil yang besar dan tinggi.

6. Optimizing returns
Inti dari investasi adalah bertumbuh, apakah dalam bentuk pendapatan tetap atau arus kas (cash flow) ataukah pertumbuhan atau kenaikan modal. Dengan arus kas kita bisa mengoptimalkan hasilnya untuk berinvestasi di tempat lain, sementara kenaikan modal adalah strategi agar kekayaan kita tetap bertambah dan sewaktu-waktu bisa kita cairkan dalam kondisi lebih besar dari modal awal.

Baik kinerja investasi (investment performance) ataupun optimalisasi hasil investasi (optimizing returns) akan lebih cepat mewujudkan tujuan keuangan kita. Semakin lama kita berinvestasi, maka hasilnya akan signifikan, walau tetap melihat pergerakan dan tujuan keuangan kita.

Setelah kita memahami prioritas dengan pendekatan piramida tujuan keuangan, maka kita mulai melakukan hukum manajemen penganggaran keuangan bagi milenial.

Baca Juga

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra

www.p3kcheckup.com




 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA