Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Belajar Hidup Semurah Mungkin

Jumat 16 Sep 2016 13:10 WIB

Red: Indira Rezkisari

Mengatur keuangan dan pola pikir sangat penting bagi kehidupan.

Mengatur keuangan dan pola pikir sangat penting bagi kehidupan.

Foto: pexels

REPUBLIKA.CO.ID, Apa yang Anda pikirkan ketika membaca kalimat “Hiduplah semurah mungkin”. Bukankah hidup harus dinikmati, bukankah hasil kerja keras kita dalam mencari nafkah semuanya buat diri dan keluarga? Tidak salah memang, apa yang Anda dapatkan hari ini untuk hari ini juga.

Tetapi hidup kita kan tidak hanya buat hari ini saja, ada hari esok, ada anak-anak dan cucu-cucu kita yang akan meneruskan cita-cita dan perjuangan kita dalam memakmurkan bumi. Seperti layaknya seseorang yang baru lulus kuliah, begitu mendapatkan income pertama kali, harusnya saat itu juga dihabiskan.

Apakah salah?

Tidak juga, jika hidup kita hanya untuk hari itu, tetapi jika Anda bekerja atau berusahanya benar, berarti saat itulah Anda harus merumuskan tujuan keuangan Anda.

Dan ujung perjalanan dari seorang karyawan atau pengusaha adalah ‘pensiun’, walau pensiun merupakan pilihan dan juga konsekuensi dari seseorang yang bekerja atau berusaha. Konsekuensi berarti ada sebuah awalan, tentu ada akhiran, orang yang memulai usaha tentulah juga akan menikmati usaha yang dirintisnya bertahun-tahun.

Sebuah pilihan bekerja karena memang sebuah wasilah untuk mencari nafkah keluarga, ataukah pilihan yang merupakan panggilan hidupnya. Dan kita lihat berapa banyak orang yang di usia pensiun 55-70 tahun masih tetap bekerja karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi tidak sedikit juga orang bekerja karena panggilan jiwanya, padahal mereka sudah berkecukupan, dalam artian tanpa bekerja pun, mereka masih punya simpanan, tabungan dan hasil Investasi atau usahanya untuk membiayai kehidupan mereka di usia pensiun.

Mana yang Anda akan pilih? Tentu yang kedua bukan.

Untuk itulah filosofi berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Tinggal dimensinya apakah hanya di dunia atau sampai hingga akhirat.

Agar hal ini kesampaian, maka perlu persiapan dari perspektif Motivasi Keuangan.  Mari kita mulai dari hal yang paling sederhana, hiduplah semurah mungkin.  Hidup semurah mungkin merupakan lawan dari gaya hidup (katanya, kalau tidak gaya tidak hidup) dan boros.

Boros dalam kaidah Quran bisa kita lihat dalam Qs Al Israa’ ayat 26-27. “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.  Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Rabbnya.”                            

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra
www.p3kcheckup.com

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA