Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Bangun Kedekatan dengan Anak Lewat Mendongeng

Selasa 18 Jun 2019 15:21 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Yudha Manggala P Putra

Anak-anak membaca buku dongeng di Sekolah Komunitas Jendela, Manggarai, Jakarta, Ahad (25/11).

Anak-anak membaca buku dongeng di Sekolah Komunitas Jendela, Manggarai, Jakarta, Ahad (25/11).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Mendongeng dapat memengaruhi perkembangan sosial, emosi, maupun kognitif anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Yuli Aisyah, seorang guru taman kanak-kanak, terbiasa menghadapi murid-murid dengan beragam perilaku. Maklum saja dia sudah melakoninya sekitar 10 tahun.

Tidak jarang ia menanyakan kepada anak-anak tentang kebiasaan mereka di rumah. Salah satunya ia menanyakan soal kedekatan murid dengan ayah dan ibunya. "Saya tanya juga biasa ngapain saja sama orang tua, ibu mereka, jawabannya macam-macam," kata Yuli.

Bila Yuli menyoroti pada peranan ibu, hal ini karena posisi ibu yang terbilang istimewa. Bagi buah hatinya, ibu merupakan sekolah pertama tempat ia belajar dan bertanya segala hal. Maka, di mata Yuli, anak yang tampak dekat dengan orang tua memang cenderung lebih mudah diatur. Perilakunya terkendali dan memiliki keinginan belajar cukup kuat.

Nah, salah satu cara agar orang tua dekat dengan anak dengan membacakan dongeng. "Jadi, kalau yang biasa dibacakan dongeng sejak kecil sepertinya mereka jadi anak yang lebih tertarik membaca, perilakunya stabil," ujarnya.

Kepada anaknya, Irfan, yang sekarang duduk di bangku sekolah dasar, Yuli juga punya kebiasaan membaca bersama, termasuk dongeng. Tentu saja urusan mendongeng ini tak selalu berjalan mulus. Sesekali memang terjadi konflik kecil, entah itu saling debat tentang sesuatu dari cerita, tebak-tebakan suara, sampai anak mengambek karena suara yang ditiru tidak sesuai ekspektasi.

Waktu kedekatan dengan anak tidak bisa diulang kembali. Karena itu, dia selalu menyempatkan waktu khusus bersama anak, termasuk lewat mendongeng. Memang saat masih berusia di bawah tiga tahun, anaknya cenderung belum mengerti apa yang ia bacakan.

Ketika di atas tiga tahun, barulah anaknya terlihat antusias dengan beragam cerita nusantara maupun luar negeri kendati belum mau terstruktur membacanya. Anaknya lebih menyukai cerita-cerita yang berhubungan dengan petualangan. Contohnya berpetualang ke sebuah negara, mencari harta karun, maupun hal yang imajinatif.

"Jadi, kayak mau lompat-lompat begitu bacanya, tapi ya seiring berjalannya waktu mulai mau baca halaman per halaman," tuturnya.

Membaca dongeng bukan suatu hal yang baru di masyarakat. Dongeng identik dengan dunia anak. Tidak hanya menghibur, dongeng juga memiliki banyak manfaat lainnya.

Kegiatan membaca dongeng dapat meningkatkan dan mempererat ikatan antara ibu dan anak, yang tentunya akan memengaruhi tumbuh kembang anak, baik itu perkembangan sosial, emosi, maupun kognitif.

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, seorang psikolog anak, dongeng juga dapat membantu mengembangkan daya imajinasi anak, memperkaya kosakata, meningkatkan keterampilan bahasa dan kemampuan mendengarkan, serta merangsang kreativitas. Namun, perlu ada kedekatan (bonding) sentuhan fisik saat membacakan dongeng.

Bonding time sebenarnya momen di mana kedekatan, kerekatan antara ibu dan anak terjalin. "Aktivitas bonding tentunya banyak, termasuk membacakan dongeng," ujar Vera.

Lewat sentuhan fisik dan interaksi saat membacakan dongeng itu, hubungan emosional yang kuat akan terjalin. Dengan demikian, dampak positifnya pun bisa dirasa kan jangka panjang. Banyak penelitian, menurut dia, menunjukkan bahwa sentuhan fisik dapat melepaskan hormon oksitoksin yang membuat anak merasa rileks dan pada akhirnya terjalin hubungan emosi yang kuat.

Reaksi positif tersebut berlanjut dengan timbulnya rasa ingin tahu tinggi, mandiri, dan sosok anak bisa berubah menjadi teman menyenangkan. Lebih dari itu, emosi positif itu juga berpotensi menjadikan anak seorang pemimpin hingga bisa berinteraksi dengan orang dewasa.

Sebaliknya, jika kerekatan anak dengan orang tua buruk, anak berpotensi menempel, menuntut, gelisah, cemas, tidak percaya kepada orang lain, serta merasa ragu disayangi orang tuanya atau tidak. Namun, tentu saja untuk mendongeng pada anak harus ada niat kuat serta komitmen. Cobalah untuk meniatkan setiap hari membacakan dongeng.

Waktu membacakan dongeng efektif untuk anak adalah usia 0-5 tahun, sementara usia sekolah dan remaja biasanya sudah mulai memiliki dunianya sendiri. Apabila periode emas atau golden moment ini terlewat, bukan berarti semuanya sudah terlambat. Namun, boleh jadi butuh upaya lebih.

Sementara itu, mengakali kebosanan anak bisa dilakukan dengan beberapa cara. Misalnya meminta anak gantian membaca hingga menantang anak mengubah cerita agar imajinasi berkembang.

"Kembalikan lagi ke anak, bisa enggak kamu meniru suara komodo, misalnya ada konflik dan baikan lagi. Aktivitas mendongeng itu juga termasuk bonding," katanya menambahkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA