Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Tips Agar Remaja tak Semakin Jauh dari Orang Tuanya

Kamis 18 Apr 2019 02:30 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Remaja stres/ilustrasi

Remaja stres/ilustrasi

Foto: yupedia.com
Orang tua harus menyesuaikan gaya pengasuhannya saat anak sudah beranjak remaja.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki masa remaja, seorang anak mengalami perubahan hormon, perilaku, maupun rasa ingin tahu akan sesuatu. Tak jarang remaja terkesan membangkang, menjauh, tak acuh akan suatu aturan yang dianggap baik oleh orang tua untuk masa depannya.

Baca Juga

Akibatnya, banyak orang tua yang merasa semakin jauh dengan anak remajanya. Mereka menganggap buah hatinya mulai memiliki dunianya sendiri.

Dilansir laman Times of India, penelitian ilmiah menunjukkan bahwa remaja yang diberikan pilihan untuk pengambilan keputusan dan menerima penguatan positif berkembang menjadi individu yang percaya diri dengan harga diri yang tinggi. Di lain sisi, bila salah ditangani, remaja akan memiliki rasa diri yang tidak kuat dan tetap merasa tidak aman.

"Karenanya, orang tua harus terlebih dahulu berhenti mengkhawatirkan kebutuhannya akan privasi. Idealnya, ortu dapat membedakan antara waktu pribadi dan keluarga di rumah tangga," psikolog anak dari Flinto R&D Center, Divya Palaniappan.

Berikan anak waktu pribadi yang cukup tanpa melupakan upaya membangun sebuah rutinitas keluarga, seperti makan bersama, mengunjungi teman dan keluarga, atau minum kopi bareng di malam hari. Ayah dan ibu juga harus membiasakan diri untuk membicarakan hari-harinya bersama anak remaja sambil menanyakan aktivitas anaknya.

Buatlah momen santai untuk membicarakan hal ini. Jangan merenungkan rincian spesifik. Pastikan momen itu tidak mengganggu anak. Biarkan semua saluran komunikasi menjadi terbuka dengan anak remaja.

Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan kepercayaan diri anak remaja adalah mengizinkannya memilih. Lalu, tawarkan dukungan tanpa menutup kemungkinan terjadinya proses pengambilan keputusan olehnya.

Misalnya, ketika anak remaja ragu-ragu untuk bergabung dengan klub olahraga. Alih-alih memberikan jawaban ya atau tidak, baiknya ajukan pertanyaan yang akan membantunya memahami minat dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang ada.

"Remaja yang tidak diizinkan untuk mengeksplorasi dan menguji identitas mereka cenderung plin-plan dari satu kesempatan ke yang lain, tidak yakin dengan apa yang sebenarnya mereka inginkan," ujarnya.

Oleh karena itu, penting untuk mendukung upaya mereka dan selalu ada bagi mereka tanpa terkesan mengganggu proses pengambilan keputusan sehari-hari. Remaja harus merasa percaya diri untuk menceritakan beberapa hal kepada orang tua

Anak harus memberikan informasi secara sukarela kepada orang tua. Hal itu akan terjadi secara alami ketika dia memahami ayah dan ibu selalu ada di sana untuk mendukungnya dan tidak merusak usahanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA