Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Pola Asuh Orang Tua Jadi Penentu Karakter Anak

Ahad 14 Apr 2019 08:53 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda

Pakar Psikologi Klinis Anak & Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi)  Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati.

Pakar Psikologi Klinis Anak & Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati.

Foto: Humas UMM
Pola asuh menjadi tanggung jawab orang tua terutama anak di bawah umur.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Pakar Psikologi Klinis Anak dan Ketahanan Keluarga Fakultas Psikologi (FaPsi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Diana Savitri Hidayati, menilai pola asuh orang tua menjadi penentu karakter anak. Terlebih pada anak di bawah umur yang masih menjadi tanggung jawab orang tuanya.

Baca Juga

Menurut Diana, pengawasan pergaulan anak juga perlu dilakukan ke grup bermainnya. Sebab, ini menjadi salah satu tempat berkembangnya anak. "Jangan-jangan pelaku tak menemukan kenyamanan di rumah, dan menemukan kenyamanan di luar. Kebetulan, grup pelarian mereka di mana tempatnya bermain cenderung negatif," ujar Diana.

Hal-hal ini diungkapkan Diana karena belakangan ini ramai terjadi perundungan terhadap anak di bawah umur. Beberapa di antaranya viral di media sosial, dan lainnya masih tertutupi dengan baik. Kekerasan antar-anak ini yang menjadi perhatian banyak orang, termasuk Diana.

Di kesempatan ini, Diana pun mencoba memaknai arti sebenarnya dari perundungan. Jika kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan dilakukan berulang terhadap orang yang sama, maka dinamakan perundungan. Jika sekali, maka tindakannya belum bisa dikatakan perundungan tetapi intimidasi.

Menurut Diana, fase usia sekolah menengah pertama dan atas itu masa di mana anak-anak mencari pengakuan dan jati diri. Masa-masa tesebut perlu dampingan intensif orang tua. Apabila tak didampingi, maka anak akan menafsirkan berbagai hal dengan kemampuan terbatasnya.

Keluarga ideal pada intinya mereka yang bersikap demokratis. Orang tua, kata Diana, harus berperan sebagai sosok pendengar yang baik. Anak juga selayaknya diberi kesempatan untuk berkontribusi di setiap pengambilan keputusan di keluarga.

Selain itu, orang tua juga dapat membebaskan anaknya untuk berbuat apapun. Dengan syarat, ia melanjutkan, tetap di bawah kontrol orang tua. Juga, melarang disertai dengan alasan yang dapat dipahami anak.

"Pola pengasuhan demikian, cukup untuk membuat anak nyaman di rumah," tambah dia.

Dengan mengkontrol perkembangan anak oleh orang tuanya, bukan berarti tidak menaruh kepercayaan kepada anak. Pasalnya, orang tua sudah menjadi kewajiban untuk memahami bagaimana anak bertumbuh kembang. “Sayangnya tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua,” ujar Diana.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA