Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Kok Ortu Mau Anaknya Tinggal dengan Michael Jackson?

Jumat 08 Mar 2019 19:41 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

King of Pop Michael Jackson

King of Pop Michael Jackson

Foto: AP/Joel Ryan
Michael Jackson dituding melecehkan anak yang pernah tinggal dengannya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semasa hidupnya, Michael Jackson pernah menjalani sidang dugaan pelecehan anak. Akan tetapi, dia dibebaskan dari semua tuduhan pada 2005.

Baca Juga

Kini, setelah 10 tahun Michael tutup usia, kasus serupa kembali menyeruak. Kesaksian dua pria dalam film dokumenter Leaving Neverland membuat publik geger.

Sebagian memercayai pengakuan Wade Robson dan Jimmy Safechuck bahwa mereka dilecehkan Raja Pop Dunia itu saat keduanya masih kecil. Kejadiannya sekitar tahun 1980 dan 1990.

Dalam film dokumenter yang dirilis oleh HBO beberapa waktu lalu itu, Wade dan Jimmy dewasa menggambarkan berubahnya acara menginap dan bermain di Neverland Valley Ranch menjadi pelecehan seksual. Pengakuan mereka sekaligus memantik rasa penasaran banyak orang, kok bisa orang tua Wade dan Jimmy mengizinkan anak laki-lakinya menginap di rumah pria dewasa asing, sekalipun itu adalah penyanyi bernama besar?

Pertanyaan berikutnya yang muncul, "Tidakkah mereka panik dan bagaimana mereka bisa melanjutkan itu selama berpekan-pekan lamanya? Pertanyaan seperti ini kerap mengemuka kala ada kasus pelecehan seksual terhadap anak, entah oleh pendeta, kerabat keluarga, pelatih olahraga, atau siapapun.

Faktanya, dalam banyak kasus, pelaku pelecehan juga kerap mendekati orang tua korbannya. Dengan segala bujuk rayu, orang tua korban diyakinkan bahwa mereka adalah sosok yang bisa dipercaya.

Diketahui, pada mulanya orang tua Wade dan Jimmy menjalin kontak dengan Michael hingga akhirnya mempercayakan anaknya berkunjung ke Neverland dengan harapan bisa memuluskan karier anaknya di dunia hiburan. Seorang psikolog klinis yang juga tim yang mengevaluasi dugaan korban pelecehan imam di Keuskupan Los Angeles, Debra Borys mengungkap, pelecehan seksual kepada anak biasanya dimulai dari adanya kepercayaan orang tua.

"Saya mendengar berulang kali tentang bagaimana pendeta-pendeta mengambil hati orang tua para korban,” kata Debra seperti dikutip Sfgate, Jumat (8/3).

Setelah mendapat kepercayaan orang tua korban, pedofil bisa lebih mudah bertemu dengan anak. Dia juga mengondisikan anak untuk menjadi sangat terikat dengannya.

"Para pedofil juga sangat memesona dan mampu memenangkan kepercayaan orang tua. Ini adalah proses yang sangat bertahap. Itu adalah proses yang panjang, secara bertahap mereka memecah batasan," jelas Debra.

Tampaknya begitu sulit dipercaya bagi semua orang, tapi ada pola pelecehan seksual. Para pelaku terus-menerus mendobrak dan menghancurkan batas-batas.

Para pelaku mungkin memiliki kekuasaan atas keluarga atau ada sesuatu yang dibutuhkan atau diinginkan keluarga terhadapnya. Seperti yang dikatakan salah seorang ibu dalam film dokumenter Leaving Neverland, "Saya tidak ingin menghalangi”.

Bagi kedua keluarga dalam film dokumenter itu, perhatian dari superstar terbesar di dunia itu mengharukan dan sangat spesial. Betapa tidak, Michael pernah mengundang mereka ke Neverland dan membelikan anak-anaknya mainan.

Tidak hanya itu, Michael bahkan pernah tinggal di rumah keluarga Jimmy sebagai cara untuk menjauh dari kelompok penguntit dan media. Ibu Jimmy, Stephanie, akhirnya merasa bahwa memang ada yang salah dengan Michael.

"Saya tidak melindungi putra saya. Itu akan selalu menghantui saya. Saya punya satu pekerjaan. Saya punya satu anak," kata Stephanie dengan penuh penyesalan.

Sementara itu, seorang psikolog dan Direktur Pusat Keunggulan untuk Anak-Anak, Keluarga dan Hukum di William James College, Jessica Greenwald O'Brien mengaku tidak mengetahui secara rinci kasus Michael. Akan tetapi, ia akrab dengan proses pengasuhan anak.

Seringkali, menurut Jessica, pelecehan seksual dilakukan bukan oleh orang jauh. Biasanya, pelakunya orang yang dikenal keluarga, seseorang yang dipercayai anak atau seseorang yang mereka pikir dapat mereka percayai dalam konteks budaya, seperti seorang pelatih, seorang pendeta, dan seorang megabintang.

Jessica mengatakan, ada kepercayaan yang ditumbuhkan sehingga orang tua tidak waspada sejak awal. Di lain sisi, orang tua memiliki kebutuhan terhadap anaknya yang mungkin bisa dibantu pemenuhannya oleh si pelaku.

"Entah itu untuk cinta dan kasih sayang, pujian, peluang atau paparan sesuatu, atau untuk memberi anak bimbingan yang dibutuhkan sehingga pelaku memiliki kesempatan melakukan pelecehan," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA