Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Orang Tua Hadir, Tapi tak Terlibat Aktivitas Anak

Jumat 25 Jan 2019 09:49 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ani Nursalikah

Seorang anak bermain didampingi orang tuanya di area Taman Anak Lapangan Banteng, Jakarta.

Seorang anak bermain didampingi orang tuanya di area Taman Anak Lapangan Banteng, Jakarta.

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
kKterlibatan orang tua merupakan pondasi penting perkembangan anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua berharap anak mereka memiliki kecerdasan holistik, baik kognitif, motorik, maupun sosial emosional. Tetapi, pertanyaannya, berapa banyak orang tua yang benar-benar hadir dan terlibat dalam perkembangan aktivitas anak?

Menurut psikolog pendidikan dan anak Elizabeth Santosa atau yang akrab disapa Lizzie, jarang orang tua mengetahui detail bagaimana anak bermain dan beraktivitas. Orang tua mungkin hadir, tapi ternyata mereka tidak terlibat secara penuh.

"Sehingga banyak anak yang bermain tapi nggak nyambung satu sama lain, nggak kooperatif juga misalnya dengan teman, belum lagi drama-drama," kata pengajar di Swiss German University di Jakarta itu.

Dia menyampaikan survei terkait keterlibatan orang tua dalam perkembangan kognitif anak melalui televisi dan gawai. Hasilnya, sebanyak 48 persen hadir dan terlibat, 31 persen tidak hadir dan terlibat, dan 21 persen hadir tapi tidak terlibat. Banyak juga ayah yang tidak terlibat, padahal sangat penting peran kedua orang tua.

"Pertanyannya simpel. Misalnya orang tua ditanya anak nonton apa, Spongebob, tokohnya siapa saja, nggak tahu. Anak belajar apa di sekolah, kupu-kupu. Ditanya nggak pemahaman anak tentang kupu-kupu? Tidak," kata psikolog yang juga penulis buku Raising Children in Digital Era itu.

Dia menyampaikan hubungan dan keterlibatan orang tua merupakan pondasi penting atau titik awal kebahagiaan anak yang berdampak positif terhadap perkembangan psikososial mereka. Maka penting bagi orang tua untuk membuat anak-anak mereka bahagia. Mengapa?

Baca Juga

Anak-anak yang bahagia akan memiliki kesadaran diri, manajemen diri, dan keterampilan sosial yang baik. Anak juga dapat memiliki kemampuan melakukan pengambilan keputusan yang lebih baik. Semua itu penting dan terkait dengan hasil yang akan mereka peroleh di kemudian hari.

Keberhasilan yang diperoleh bisa berupa pendidikan, peningkatan atau kesuksesan karier dan lebih kecil kemungkinannya untuk mereka melakukan tindakan yang melanggar hukum. Dia juga menambahkan adanya fenomena pendidik atau guru sekolah yang sampai hari ini tidak bisa membedakan mana mengejek atau perundungan (bully).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA