Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Friday, 19 Ramadhan 1440 / 24 May 2019

Setiap Anak Remaja akan Alami Periode Ingin Bunuh Diri

Rabu 23 Jan 2019 14:12 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: nspt4kids.com
Konseling rutin bisa membantu memperbaiki pola komunikasi dalam keluarga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak dan keluarga Samanta Ananta menganjurkan orang tua selalu waspada terhadap perilaku anak remajanya. Setiap anak yang dalam masa pertumbuhan, termasuk remaja, akan mengalami periode ingin bunuh diri.

Baca Juga

"Mengacu pada data yang ada di Amerika atau negara lain yang punya data secara akurat, kita melihat anak remaja pasti akan mengalami periode pikiran ingin bunuh diri," ujar Samanta saat ditemui Republika.co.id, Selasa (22/1).

Samanta menjelaskan, durasi periode ini tergantung pada seberapa besar keinginan untuk bunuh diri. Menurut Samanta, ada keinginan yang sifatnya hanya terbersit, namun ada pula keinginan yang sudah disertai dengan tindakan percobaan.

Perbedaan tingkat keinginan bunuh diri ini dilihat dari seberapa besar masalah yang sedang dihadapi sehingga bisa membuat mereka stres atau tertekan. Permasalahan anak remaja umumnya melingkupi aspek keluarga, sosial atau pertemanan, dan akademis.

"Penyebabnya karena ada berbagai tekanan, tekanan dari teman-teman sepergaulan di sekolah, orang tua bermasalah, serta tuntutan yang terlalu tinggi dari lingkungan sekitar," kata Samanta.

Jika dibiarkan, stres ini akan bisa mengarah pada depresi ringan, sedang, atau berat. Pikiran untuk mengakhiri hidup lebih banyak terjadi di depresi sedang. Oleh sebab itu, orang tua perlu waspada terhadap gejala depresi pada anak.

Gejala yang paling umum adanya perubahan perilaku ketika di rumah. Misal, jika biasanya anak suka bercerita, tiba-tiba menjadi lebih suka mengurung diri di kamar. Contoho lain, anak yang selalu pulang tepat waktu tiba-tiba pulang sangat terlambat.

Pada dasarnya, menurut Samanta, hal tersebut merupakan bagian dari perubahan fase remaja. Namun, ia menganjurkan orang tua selalu mengecek apakah perubahan tersebut masih dalam taraf yang normal untuk periode usia anak atau tidak. Caranya, dengan berkonsultasi rutin setiap enam bulan sekali ke psikolog.

"Jangan sampai sudah kronis baru datang ke psikolog," kata Samanta.

Menurut Samanta, melakukan konseling rutin bisa membantu memperbaiki pola komunikasi dalam keluarga. Semakin baik pola komunikasi, maka anak dan orang tua akan bisa berkomunikasi dua arah.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA