Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Anak pun Bisa Kesepian, Bagaimana Gejalanya?

Senin 17 Dec 2018 06:29 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ani Nursalikah

Salah satu anak (tengah) yang murung dan sedih (ilustrasi).

Salah satu anak (tengah) yang murung dan sedih (ilustrasi).

Foto: Republika/Musiron
Anak-anak yang tinggal di kota besar cenderung merasa kesepian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat umum berpikir kesepian adalah masalah yang hanya memengaruhi orang dewasa. Nyatanya, anak-anak juga sangat berisiko dengan hal yang sama.

Angka baru dari Kantor Statistik Nasional Britania Raya menemukan 11 persen anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun mengatakan sering merasa kesepian. Rasa tersebut lebih sering terjadi pada anak-anak yang lebih muda, berusia 10 sampai 12 tahun, dibandingkan mereka yang berusia 13 hingga 15 tahun.

Laporan itu menemukan 27,5 persen anak-anak yang menerima makanan sekolah gratis mengatakan sering kesepian, dibandingkan dengan 5,5 persen dari mereka yang tidak menerima makan gratis. Anak-anak yang tinggal di kota besar cenderung merasa kesepian dibandingkan mereka yang tinggal di kota kecil dan pedesaan.

"Setiap anak membutuhkan waktu sendiri sekarang dan berulang, bahkan bagi mereka yang memiliki sosialisasi tinggi," kata Kepala Kebijakan dan Penelitian di Action for Children Eleanor Briggs, dikutip dari Huffington Post, Ahad (16/12).

Meski anak-anak membutuhkan waktu sendiri, hal tersebut jangan dibiarkan terlalu lama. Bringgs menyatakan, terkadang seorang anak kecil akan merasa sedih karena sendirian.

Ketika seorang anak kesepian, mereka mungkin tidak akan membicarakan tentang teman-temannya. Umumnya mereka juga tampak tenang, menarik diri atau hanya sedih. Briggs mengatakan, mungkin mereka menghabiskan banyak waktu sendirian, tidak pernah pergi dengan teman, atau kehilangan nafsu makan.

Kepala layanan orang tua di yayasan amal Young Minds, Jo Hardy mengatakan, anak-anak dan remaja merasa sangat kesepian selama perubahan yang sulit. Misalnya, setelah kehilangan keluarga atau musibah, ketika mereka pindah sekolah, atau karena hubungan atau persahabatan berakhir.

Bahkan anak-anak yang menjalani sebagian besar kehidupannya di media sosial dan memiliki hubungan yang sangat baik mungkin merasa kesepian. Apalagi jika mereka diganggu secara daring atau tidak dapat berhubungan dengan kehidupan nyata dengan teman sekitarnya.

“Merasa kesepian bukan masalah kesehatan mental, namun, bisa berdampak buruk pada kesehatan mental. Orang-orang muda yang berjuang dengan kesehatan mental mereka juga sering merasa terisolasi atau sendirian," kata Hardy.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA