Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Sebanyak 15 Persen Ibu Baru Terkena Depresi

Kamis 14 Feb 2019 10:15 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Indira Rezkisari

Ibu yang baru melahirkan anak kembar.

Ibu yang baru melahirkan anak kembar.

Foto: AP
Risiko tinggi depresi kerap hinggap ke ibu tunggal hingga berpenghasilan rendah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah rekomendasi baru dari sekelompok ahli membantu lebih banyak ibu yang baru dan hamil untuk menghindari depresi. Merasakan depresi merupakan salah satu komplikasi paling umum dari kehamilan dan persalinan.

Rekomendasi ini adalah yang pertama dari Satuan Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) untuk mencegah depresi perinatal. Kondisi ini menyerang selama kehamilan atau setelah melahirkan dan memengaruhi hampir 15 persen ibu baru.

Pedoman menyatakan dokter, yaitu penyedia perawatan primer, harus memberikan layanan konseling atau referensi kepada semua wanita hamil dan postpartum dengan risiko peningkatan depresi perinatal. Pedoman ini dapat membantu mencegah masalah kesehatan mental pada populasi yang rentan dan mendorong lebih banyak penyedia asuransi untuk menyediakan layanan konseling bagi wanita hamil dan postpartum.

Setelah meninjau penelitian yang relevan, USPSTF secara khusus merekomendasikan wanita yang berisiko mencoba terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini berfokus pada mengubah pemikiran seseorang untuk mengubah perasaan atau terapi interpersonal, yang berfokus pada membangun keterampilan hubungan.

Mereka yang berisiko tinggi mengalami depresi termasuk ibu tunggal, muda dan berpenghasilan rendah, orang dengan riwayat depresi, dan wanita yang menunjukkan gejala depresi termasuk yang memiliki energi dan suasana hati rendah.

Psikolog di departemen kebidanan dan ginekologi di University of Texas Medical Branch Jeff Temple mengatakan, fokus proaktif dari rekomendasi itu penting. Rekomendasi USPSTF di masa lalu berfokus untuk depresi yang ada di antara semua orang dewasa, termasuk wanita hamil dan postpartum.

"Saya sangat senang melihat sesuatu yang berkaitan dengan pencegahan, apakah itu kesehatan mental secara umum atau depresi perinatal secara khusus. Jika kita dapat mencegah masalah terjadi, kita tidak hanya melakukan layanan yang bagus untuk manusia, namun juga (sistem perawatan kesehatan) menghemat banyak uang," ujar ahli yang tidak terlibat dalam rekomendasi itu, dikutip dari Time, Kamis (14/2).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA