Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Gadget itu Seperti Narkoba

Rabu 23 Jan 2019 13:11 WIB

Rep: Syahruddin El-Fikri/ Red: Andi Nur Aminah

Dewi Utama Fayza, penulis buku anak dalam seminar 'Buku Anak Masa Depan' yang digelar IKAPI DKI Jakarta, di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, Rabu (23/1)

Dewi Utama Fayza, penulis buku anak dalam seminar 'Buku Anak Masa Depan' yang digelar IKAPI DKI Jakarta, di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, Rabu (23/1)

Foto: Syahruddin-El Fikri
Gawai menjadi candu yang membuat anak-anak memiliki sifat ketergantungan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penulis buku anak, Dr Dewi Utama Fayza, mengatakan, gawai (gadget) adalah narkoba bagi anak. Alasannya, gawai menjadi candu yang membuat anak-anak memiliki sifat ketergantungan.

Hal itu disampaikan Dewi dalam seminar "Buku Anak Masa Depan" yang diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, Rabu (23/1). Pembicara lainnya dalam seminar ini, antara lain, Supriyatno dari Pusat Kurikulum Buku (Puskurbuk) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Nih Fauzil Adhim, Noni Mira Timotius (Editorial And Production Manager Buana Ilmu Populer), dan Fanfan F Darmawan (Manager Marketing dan Komunikasi Pelangi Mizan).

Dewi mengatakan, anak-anak jika sudah memegang gadget akan sangat susah untuk diminta berhenti. Dewi menerangkan, untuk mengatasi hal tersebut, sudah selayaknya para orang tua untuk memiliki ketegasan atau kedisiplinan kepada anak-anak. "Jangan karena kasihan lalu mereka dipinjamkan gadget. Itu sebenarnya bukan mendidik, tetapi orang tua turut menjerumuskan anak-anaknya pada candu itu," terangnya.

Untuk itu, Dewi mengimbau para orang tua untuk konsisten mencegah hal tersebut agar mereka tidak punya kecenderungan bermain gadget. "Ubah kebiasaan meminjamkan gadget dengan buku. Ajak mereka bercerita atau bergaul dengan anak-anak yang lain di luar rumah, namun tetap dalam pantauan," ujarnya.

Dan buku-buku yang dipilih untuk anak, kata dia, bisa dengan buku yang imajinatif, inspiratif, atau tentang kisah-kisah tokoh. "Buku itu lebih mendidik dibandingkan dengan gadget," ungkapnya.

Dewi mencontohkan sejumlah anak-anak di Jepang. Menurutnya, banyak cara yang dilakukan para orang tua mereka untuk mengajak anak-anaknya dalam mengalihkan perhatiannya pada gadget. "Banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka bermain atau melihat kondisi alam, perkebunan, hewan, dan lainnya," kata dia. Dan cara itu, lanjut Dewi, ternyata cukup efektif mengalihkan perhatian anak atas ketergantungan mereka pada gadget.

Anak-anak enggak suka membaca? "Ya, di sinilah peran orang tua untuk membacakan buku pada mereka," lanjut Dewi.

Hal senada disampaikan Fauzil Adhim, psikolog dan juga penulis buku. Menurut Fauzil Adhim, perlunya pendampingan orang tua saat menyaksikan atau melihat anak-anak bermain gadget. "Memang perlu perjuangan mengalihkan perhatian mereka ketika mau bermain gadget. Namun, saat mereka bermain gadget, harus didampingi dan diawasi," kata penulis buku Kupinang Engkau dengan Bismillah ini.

Lebih lanjut, Fauzil menegaskan, orang tua berperan penting dalam mendorong anak-anaknya untuk membaca. "Jika kita ingin anak-anak rajin membaca, orang tuanya mesti menjadi teladan dan contoh. Contohkan pada mereka bahwa kita sebagai orang tua juga rajin membaca," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA