Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Sabtu, 16 Rajab 1440 / 23 Maret 2019

Pentingnya Orang Tua Berdongeng untuk Buah Hati

Jumat 30 Nov 2018 17:20 WIB

Rep: MGROL 115/ Red: Indira Rezkisari

Guru membacakan buku dongeng kepada anak-anak saat melakukan kunjungan ke Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta, Selasa (10/4).

Guru membacakan buku dongeng kepada anak-anak saat melakukan kunjungan ke Perpustakaan Nasional, Gambir, Jakarta, Selasa (10/4).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Lewat dongeng orang tua mengajarkan banyak hal ke anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sumber kecerdasan anak bisa didapat dari banyaknya pengetahuan dan informasi yang diberikan ke anak. Mendongeng bisa dilakukan orang tua ke anak sebagai cara menambah pengetahuan dan wawasan.

Baca Juga

Psikolog Seto Mulyadi atau biasa di panggil Kak Seto mengatakan dongeng bisa dijadikan alat memberi informasi ke anak. Caranya harus dengan kemasan yang menarik.

"Baik dengan suara, nada-nada indah, alat peraga sehingga membuat wawasan anak menjadi luas," ujarnya.

Menurut Kak Seto, mendongeng bahkan bisa dilakukan sedari anak dalam kandungan. "Ada penelitian, ketika bayi masih dalam kandungan dan ibu sering bercerita dan tetap konsisten, begitu bayi lahir dan mendengarnya lagi, anak itu akan mengingat bahwa ia pernah mendengarkan dongeng tersebut", ungkapnya.

Tak sekadar bercerita, mendongeng merupakan sarana orang tua mengajarkan perilaku baik. Lewat cerita ayah dan ibu bisa mengajarkan tidak perlu adanya kekerasan, tidak balas dendam, hingga perilaku memaafkan.

Lebih baik jika dongeng dibuat oleh ayah ibunya sendiri. Cukup dengan membuat sinopsis yang pendek tapi bisa memberikan pengetahuan kepada buah hati.

Kak Seto menegaskan jika anak-anak mau mendengarkan dongeng, orang tua harus meresponsnya dengan memberikan kekuatan cinta sepenuh hati. Jangan malu untuk berlatih bicara untuk berdongeng, melatih nada, mempersiapkan alat peraga hingga menggali kreativitas bercerita.

Jangan lupa pentingnya komunikasi dua arah saat bercerita. Penyampaian cerita harus bisa dimengerti oleh anak. Jangan sampai anak bosan dan tidak mau mendengarkan dongeng dari orang tuanya.

Sistem evaluasi sehabis membacakan dongeng ternyata bermanfaat. Orang tua yang sehabis membacakan dongeng bisa bertanya kepada anak, apa kelebihan dan kekurangannya sehingga ketika keesokan harinya ingin mendongeng kembali akan lebih baik. Anak ikut semangat ingin mendengarkan orang tuanya mendongeng lagi.

Ketika menemukan cerita dongeng yang kurang sesuai, orang tua bisa berkreasi dengan isi cerita. Kak Seto mengatakan, itu pentingnya anak mendengar dongeng dari ayah ibunya.

"Dongeng yang kurang pantas untuk anak-anak, harus bisa dikemas kembali oleh orang tua. Contoh Kancil Mencuri Timun. Yang ditegaskan bukan mencurinya tapi kreativitasnya," kata KaK Seto.

Orang tua tidak harus mengikuti persis isi cerita seperti dalam buku. Dalam mendongeng yang penting anak bisa memahami cerita.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA