Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Friday, 29 Jumadil Awwal 1441 / 24 January 2020

Cerita Dongeng, Masih Relevankah Dibacakan ke Anak?

Sabtu 27 Oct 2018 06:07 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Indira Rezkisari

Cinderella dan Pangeran Tampan.

Cinderella dan Pangeran Tampan.

Foto: EPA
Dalam banyak dongeng sosok perempuan harus selalu diselamatkan pangeran tampan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fairytale atau cerita dongeng selama ini selalu menjadi pengantar tidur selama berabad-abad. Bahkan dongeng selalu menciptakan hit box office yang mendoktrinasi masa kecil.

Namun, dongeng ternyata penuh dengan stereotip prasangka dan kuno. Dilansir melalui The Independent, cerita seperti Cinderella dan Beauty and The Beast tertanam sebagai budaya populer.

Banyak cerita dari dongeng menggambarkan sosok perempuan yang kemudian diselamatkan laki-laki. Akhir cerita selalu berlatar belakang adegan ciuman dari keduanya. Penulis buku 'Dongeng dan Feminisme' Donald Haase mengatakan, orang tua sebaiknya bisa membacakan cerita-cerita tersebut lebih skeptis.

"Orang tua bisa membacakan cerita kisah klasik dengan menumbangkan stereotip tersebut," ujar Haase yang juga profesor di Universitas Negeri Wayne. Berikut beberapa alasan orang tua untuk berhenti menceritakan dongeng pada anak.

Perempuan Sosok yang Pasif
Dalam banyak cerita dongeng, seperti Snow White, Sleeping Beauty, atau Cinderella, secara keseluruhan digambarkan dengan stereotip yang sama. Selain warna atau model rambut yang tidak umum, para perempuan itu dibuat memiliki hidup yang sengsara kemudian diselamatkan oleh seorang pangeran.

Karakter ini seolah membunuh sisi maskulinitas perempuan. Cerita ini membuat peran wanita ditekan untuk menjadi sosok yang tradisional.

Pernikahan Sebagai Hadiah Tertinggi
Pernikahan ibarat hadiah tertinggi dalam cerita dongeng. Dari sekian banyak dongeng, akhir cerita selalu berujung dengan perayaan pernikahan akbar nan megah.

Perkawinan seolah menjadi tujuan tunggal dan mengesampingkan kehidupan lain. Hal ini diklaim, bagi mereka yang belum menikah dianggap gagal dalam hidup. Kemudian cinta diartikan sebagai konsep untuk menikahi seseorang, bukan lagi sebagai filosofis yang berkembang.

Kurang Keragaman Fisik, Rasial, Seksual
Cerita dongeng selalu menggambarkan bahwa putri-putri Disney merupakan sosok yang cantik, langsing, dan mayoritas berkulit putih. Standar tubuh yang tidak realistis ini mendikte dunia terhadap sosok perempuan. Untuk seorang anak, gambaran wanita yang demikian akan merugikannya.

Padahal kecantikan tidak digambarkan demikian. Cerita dongeng juga tidak lepas dari karakter antagonis. Karakter di dalam dongeng dianggap heteroseksual, yakni selalu ada yang jahat dan baik. Penggambaran ini mejadi kurang beragam terhadap karakter.

Pembantu Rumah Tangga
Cinderella dan beberapa dongeng lain juga menggambarkan perempuan sebagai pembantu rumah tangga. Kemudian Snow White harus melayani tujuh kurcaci. Penggambaran ini memperlihatkan untuk mendapatkan sesuatu seorang perempuan harus menjadi pembantu rumah tangga atau pesuruh.

Iblis Ibu Tiri, Penyihir Jahat, Saudara Tiri
Ketika berselancar di Google dan mencari sosok penjahat di dalam dongeng, pasti muncul ibu tiri, saudara tiri, hingga penyihir jahat. Padahal di dalam kenyataan tidak selalu demikian.

Dongeng bisa menjadi satu hal yang representatif dan mengulik daya imajinasi anak. Namun orang tua harus hati-hati dalam menyampaikan cerita dongeng. Sebaiknya, hindari menyampaikan ideologi kuno yang kini selalu dikembangkan.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA