Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Saturday, 16 Rajab 1440 / 23 March 2019

Media Sosial Musuh Utama Anak Alami Gangguan Tidur

Rabu 03 Oct 2018 14:26 WIB

Rep: Nora Azizah/ Red: Indira Rezkisari

Anak bermain gim di gawai.

Anak bermain gim di gawai.

Foto: Flickr
Pakar mengatakan penyebab terbesar gangguan tidur anak sebenarnya adalah orang tua.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Meningkatnya jumlah anak-anak penderita masalah tidur dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Mereka terbiasa menggunakan perangkat digital dan bermain medsos sebelum tidur. Tanpa disadari, kebiasaan buruk tersebut berakibat fatal bagi pola tidur anak.

Baca Juga

Berdasarkan pemberitaan The Independent yang mengutip investigasi The Guardian, jumlah penerimaan pasien anak di rumah sakit dengan gangguan tidur meningkat selama enam tahun terakhir. Anak berusia di bawah 16 tahun memiliki diagnosa utama mengalami gangguan tidur dengan angka lebih dari 6 ribu kasus pada 2012-2013, dan meningkat menjadi lebih dari 9 ribu pada tahun lalu.

Kenaikan dalam masalah tidur untuk anak berbeda sedikit dengan penurunannya di semua usia, yakni lebih dari 29 ribu pada 2012-2013, dan hampir mencapai 30 ribu pada 2017-2018. Beberapa ahli mengatakan bahwa media sosial bukan benda yang patut disalahkan. Namun orang tua harus bisa membatasi pemakaian media sosial dan memberikan batasan bagi anak.

Ahli Detoks Digital Tanya Goodin mengatakan, cahaya biru pada layar memang daat mengganggu tidur. "Tapi letak permasalahannya adalah pada pengasuhan yang buruk," kata Goodin yang juga menulis Stop Staring at Screen. Apabila anak-anak begadang di malam hari dan terpaku pada layar untuk bermain media sosial, maka kesalahan justru berada di tangan orang tua.

Rutinitas tidur merupakan kunci dalam mendukung pola tidur yang lebih baik. Diet juga bisa berperan karena konsumsi gula atau minuman berenergi pada anak bisa mengompensasi kekurangan tidur. Hal tersebut berdampak pada tidur mereka di malam hari. Peningkatan obesitas dan gangguan mental juga menjadi dampak yang turut berkontribusi.

Obesitas berkontribusi pada sleep apnea, yakni gangguan tidur yang paling umum terjadi. Apnea tidur merupakan gangguan pada dinding tenggorokan yang menjadi sempit saat tidur sehingga mengganggu pernapasan normal. Ini menjadi masalah buruk bagi anak yang kelebihan berat badan.

Anak-anak yang menderita kecemasan juga memiliki dampak sulit tidur. Kekurangan jam tidur juga berpengaruh terhadap kecemasannya. Hal tersebut membuat anak-anak membutuhkan rutinitas yang konsisten sejak awal. Misalnya, melakukan rutinitas yang lebih baik dengan mengurangi penggunaan ponsel pintar satu jam sebelum tidur merupakan hal penting yang bisa dilakukan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA