Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Memperbaiki Asupan untuk Bayi yang Berat Badannya Kurang

Selasa 21 Agu 2018 19:12 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Indira Rezkisari

Bayi makan

Bayi makan

Foto: flickr
Makanan yang diberikan prinsipnya harus melengkapi gizi yang tidak cukup dari ASI.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada beberapa penyebab failure to thrive (FTT) atau weight faltering pada bayi hingga balita. Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tidak tepat waktu atau tidak cukup bisa jadi salah satu penyebab berat badan anak tidak adekuat.

Pada anak di usia ASI eksklusif, pertama kali perlu dievaluasi cara ibu memberi ASI. Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A(K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM mengatakan, perbaiki posisi menyusui dan perlekatan payudara, lihat selama dua pekan. Jika berat badan berhasil naik, ASI eksklusif tinggal dilanjutkan.

Kemudian jika berat badan tetap atau turun, ASI tetap dilanjutkan namun dengan ditambah asupan lain. Bila usia anak kurang dari empat bulan, belum boleh mendapat makanan. Pilihannya adalah donor ASI yang aman, atau susu formula dengan standar CODEX.

"Pada anak lebih dari empat bulan, harus dilihat kondisinya, apakah sudah menunjukkan tanda-tanda siap makan. Yakni kepala sudah tegak, lidah tidak menjulur-julur lagi. Bila kepala belum tegak, belum bisa diberi makanan padat karena bisa tersedak," kata Dr Damayanti.

Makanan yang harus diberikan untuk pemulihan pada prinsipnya harus melengkapi zat gizi yang tidak cukup dari ASI. Komposisinya mengacu pada ASI dan kualitasnya sebaik ASI.  

Komposisi ASI terdiri dari 55 persen lemak, 30 persen karbohidrat, dan lebih dari lima persen protein. "Ketiga zat gizi ini yang merupakan makronutrisi, lemak, karbohidrat dan protein adalah building block untuk pembentukan otak dan pertumbuhan tinggi badan," tegas Dr Damayanti.

Makanan pemulihan harus mengandung protein hewani dan energi yang cukup. Stunting pada balita di Indonesia banyak disebabkan oleh asupan protein hewani yang tidak adekuat pada dua tahun pertama kehidupan. Asupan energi pun harus cukup karena bila kurang, protein yang masuk akan dipakai menjadi energi bukan untuk pertumbuhan.

Sumber protein hewani terbaik yakni whey protein, telur, susu, ikan, ayam, dan terakhir daging merah. "Apabila tidak memungkinkan MPASI rumahan, WHO memperbolehkan MPASI yang sesuai dengan Codex. Produk dengan izin edar BPOM pasti sudah mengikuti Codex," ungkap Dr Damayanti.

Selain itu penting untuk memastikan bayi dan batita mendapatkan tidur yang cukup alias deep sleep pada pukul 23.00-02.00 setiap hari. Untuk mencapai deep sleep orang tua harus membiasakan anak tidur di jam 20.00, karena anak biasanya tidak akan langsung tidur dan bermain-main terlebih dahulu.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA