Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Jangan Sampai Kopi Jawa Barat Kalah Pamor

Ahad 23 Jun 2019 19:44 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Indira Rezkisari

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) bersalaman dengan Deputy Director Corporate Communications CRP Group Sarita Sutedja usai meresmikan Paberik Kopi Upnormal di Paberik Kopi Upnormal Coffee Roasters, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Sabtu (22/6).

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) bersalaman dengan Deputy Director Corporate Communications CRP Group Sarita Sutedja usai meresmikan Paberik Kopi Upnormal di Paberik Kopi Upnormal Coffee Roasters, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Sabtu (22/6).

Foto: Abdan Syakura
Emil akan memastikan agar kopi Jawa Barat tidak kalah saing.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Upnormal menyelenggarakan Etalase Kopi Jawa Barat di Paberik Kopi Upnormal Coffee Roasters, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Sabtu (22/6). Di Etalase terdapat pameran 10 kopi terbaik Jawa Barat hasil seleksi.

Baca Juga

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil turut hadir dalam acara tersebut. Menurutnya, industri kopi Jawa Barat adalah sebuah tantangan bagi pemerintah.

"Bagaimana industri kopi di Jawa Barat harus bisa memaksimalkan penggunaan kopi Jawa Barat sendiri. Karena kopi Jawa Barat sangat banyak," kata Emil, sapaannya.

Menurutnya, perlu ada koordinasi dengan seluruh elemen hingga kopi Jawa Barat bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. Apalagi, sampai kalah pamor dengan kopi yang datang dari luar negeri.

"Tentu pertanyaannya apakah kopi Jawa Baratnya siap bersaing? Maka kita bekerja sama dengan berbagai pihan untuk bisa memastikan kopi Jawa Barat sebagai kopi terbaik," katanya.

Emil menyebut banyak hal yang harus diperhitungkan dari kopi Jawa Barat. Karena saat ini kopi sendiri memiliki harga yang beragam dan kualitas kopi Jawa Barat yang tidak sesuai dengan harganya.

"Karena proses kopi yang panjang itu baik dari cara menanam, mengambil, roasting dan seterusnya sampai jadi kopi siap minum itu sangat panjang," katanya.

Emil juga turut menyorot kesejahteraan sumber daya manusia di bidang kopi. Sebagai contoh barista masih memiliki pendapatan di bawah UMR di tengah maraknya tren ngopi khususnya di Jawa Barat.

"Memang profesi dari pemilik kebun, buruh pemetik kopi, hingga teknisi sampai barista itu semua harus mendapatkan kesejahteraan yang memadai. Nanti kita teliti masalahnya ada di mana. Tapi tidak boleh ada yang tertinggal, yang kaya makin kaya silakan, tapi yang menengah ke bawah harus sejahtera," tegasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA