Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Tuesday, 22 Syawwal 1440 / 25 June 2019

Gulai Talang, Masakan Leluhur Warga Mersam

Rabu 12 Jun 2019 12:05 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Ilustrasi. Gulai Talang

Ilustrasi. Gulai Talang

Foto: Antara
Gulai Talang merupakan warisan leluhur warga Kecamatan Mersam, Batanghari, Jambi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI -- Pada masa lalu, leluhur warga Kecamatan Mersam, Batanghari, Jambi memiliki satu kebiasaan menarik. Mereka biasa memasak makan siang di kebun, yang disebut talang dalam bahasa setempat.  Memasak makan siangnya pun dari bahan-bahan yang mudah didapat di kebun.

Sebut saja bebek yang biasa dipelihara di kebun atau ayam hutan dan kancil yang bisa diburu di kawasan sekitar kebun. Bumbunya sederhana, antara lain meliputi garam, bawang merah dan putih, cabai, ketumbar, jahe, kunyit, dan sereh. Rasanya pedas dan segar.

Beruntung, tradisi memasak gulai talang dan makan behidang ini tetap terjaga dan sampai kini masih lestari.

"Gulai talang ini hanya makanan leluhur kami saat di kebun, namun karena cita rasa yang unik dan nikmat, saat ini gulai talang telah menjadi masakan khas di daerah kami," kata Muklis, Lurah Kembang Paseban, Kecamatan Mersam.

Sekarang, saat warga tidak lagi berburu ayam hutan atau kancil untuk makan siang, biasanya daging bebek yang dimasak menjadi gulai talang. Dan kini warga setempat punya tradisi makan gulai talang, yang disebut masak talang, di rumah warga yang hendak menggelar hajatan.

"Tradisi masak talang itu dilakukan jika ada warga yang hendak menikahkan anaknya, tradisi masak talang ini dilakukan pada malam hari sebelum pesta dilakukan," kata Muklis.

Dalam tradisi masak talang, seluruh warga biasanya berkumpul di rumah warga yang memiliki hajatan dan menyantap gulai talang bersama-sama. Dalam acara makan bersama yang disebut warga setempat makan behidang itu, gulai talang disajikan dalam satu nampan untuk tiga sampai empat orang.

Gulai talang kini juga bisa dinikmati di kedai-kedai makan, termasuk di warung nasi simpang Mersam yang berada di kawasan jalan lintas Batanghari-Tebo.

Muklis pun berharap makanan warisan leluhur warga Mersam itu bisa menjadi bagian dari kuliner tradisional khas Batanghari yang populer dan lestari.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA