Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Bubur Ayam Barito, Cuma Ada di Jl Gandaria Tengah III

Sabtu 13 Apr 2019 10:00 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Reiny Dwinanda

Bubur Ayam Barito Pak Agus, Jl. Gandaria Tengah III, Jakarta Selatan, Senin (8/4).

Bubur Ayam Barito Pak Agus, Jl. Gandaria Tengah III, Jakarta Selatan, Senin (8/4).

Foto: Republika/Nugroho Habibi
Bubur ayam barito disajikan dengan cistik dan emping, tanpa kuah kaldu ayam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penikmat bubur ayam, khusunya yang berada di Ibu Kota, pastinya tidak asing lagi dengan Bubur Ayam Barito. Berlokasi di Jalan Gandaria Tengah III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, bubur Barito tak pernah sepi dari pengunjung.

Kedai yang bercampur dengan berbagai macam penjual itu, seolah menjadi yang paling laris di antara semuanya. Tempat duduk yang terbatas membuat pembeli tumpah ruah mengisi tempat duduk kedai lain.

Pemilik kedai Bubur Ayam Barito, Agus Sukarmin, mengatakan setidaknya 1.000 mangkuk bubur dengan bermacam variasi tersedia saban hari. Untuk menyiapkan porsi sebanyak itu, ia membutuhkan tiga dandang bubur ukuran jumbo.

Sebagai pelengkap, Agus menyiapkan 100 ekor ayam yang telah dipotong kecil dan 400 butir telur ayam. Bagaimana hasil racikan Agus?

Pelanggan dapat menikmati bubur ayam dipadu dengan gurihnya cistik dengan taburan bawang, seledri, dan asinnya rasa tong cai dengan harga 18 ribu rupiah. Bubur barito tidak disajikan dengan kaldu yang melimpah. Buburnya melainkan ditanak hingga mengering dan tampak tidak memiliki kaldu.

Untuk menikmati bubur komplit, dengan tambahan kuning telur ayam kampung, pelanggan perlu merogoh kocok 22 ribu rupiah. Bagi pelanggan yang memesan bubur komplit, kuning telur ayam kampung yang sudah dipisahkan dengan putih telur dan langsung dicemplungkan ke dalam mangkuk yang sudah berisi bubur panas. Telur ayam pun matang tanpa melalui proses perebusan.

Dalam sehari, Agus bisa mencapai omset Rp 19 juta hingga Rp 21 juta. Untuk melancarkan dagangannya, pria kelahiran Solo, Jawa Tengah itu mempekerjakan 15 orang karyawan.

photo
Bubur Ayam Barito Pak Agus, Jl. Gandaria Tengah III, Jakarta Selatan, Senin (8/4).

Dua kali proses penanakan

Agus menceritakan, pada mulanya, ia melakukan percobaan dengan berbagai macam variasi bubur. Percobaan yang sukses memikat selera pelanggan rupanya paduan bubur bertabur cistik, emping, bawang, dan seledri.

"Mulanya pada 1992, waktu itu coba bubur pakai cistik, emping. Alhamdulillah cocoknya pakai cistik. Empingnya diplastikin," ujarnya saat ditemui Republika.co.id, Senin (8/4).

Agus menjelaskan perbedaan bubur ayam miliknya dengan bubur yang lain terletak pada proses pengolahan. Bubur Ayam Barito dijaga agar tetap panas melalui dua kali proses penanakan.

Pertama, Agus mengaduk beras di dalam dandang selama hampir dua jam sampai tanak. Setelah itu, bubur dibawa ke tempatnya berjualan.

"Terus di bawa ke sini dan dipanasin lagi," kata pria kelahiran 1969 tersebut.

Tidak buka cabang

Meskipun telah sukses dalam menjalankan bisnis bubur ayam, Agus tetap melayani para pelanggan dengan tangannya sendiri. Hal itu, membuat rasa tidak berubah dari waktu ke waktu.

Agus menegaskan, Bubur Ayam Barito tidak membuka cabang ditempat lain. Itu artinya, jika pelanggan melihat Bubur Ayam Barito di tempat lain, berarti bukan kedai milik Agus.

"Saya sengaja. Bubur Ayam Barito tidak membuka cabang. Kayak pakek nama Barito itu nggak punya saya. Karena tidak ada cabang ya. Dari dulu hanya disini," tegasnya.

Selain hari Selasa pada minggu bulan ke dua dan ke empat, pengunjung dapat datang ke lokasi pada pukul 17.00 hingga 00.00 WIB. Untuk diketahui, pada akhir pekan, pengunjung disarankan untuk datang lebih awal. Sebab, Agus mengaku pada pukul 22.00 WIB, 1.000 mangkuk yang disediakan telah habis terjual.

"Kalau akhir pekan bisa habis lebih cepat, soalnya banyak sekali pembeli yang datang ke sini ramai-ramai," ujarnya.

Ingin lebih praktis? Agus menyarankan memesan Bubur Ayam Barito melalaui aplikasi, baik Go-Food maupun Grab-Food. Perbedaan harga, tidak terlalu tinggi hanya berkisar tiga ribu rupiah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA