Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Wednesday, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Demie, Resto Mi Ayam Berkonsep Open Kitchen di Jaksel

Ahad 07 Apr 2019 10:01 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Reiny Dwinanda

Demie Bakmi, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Demie Bakmi, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Foto: Republika/Nugroho Habibi
Restoran mi ayam Demie berlokasi di Ruko Pelaspas, Jl Dharmawangsa, Jaksel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baru setahun buka, Demie mulai menjadi magnet bagi penggemar mi ayam. Sang pemilik, Luhur Adiprasetyo Sarodja (26), mengaku sengaja terjun ke bisnis kuliner demi mencegat penggemar mi ayam dari sekitaran Jakarta Selatan untuk tak jauh-jauh ke Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Luhur mengaku dahulu selalu menyempatkan waktu untuk berburu mi ayam di akhir pekan. Sebagai orang Jakarta Selatan, destinasi kulinernya selalu merujuk pada ke Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang terkenal dengan mi ayam legendarisnya.

"Saya lantas berpikir, kenapa tidak membuat di selatan, kan market-nya kita-kita juga," ujarnya.

Luhur lantas membuka kedai di rumahnya pada Februari 2018. Dia memanfaatkan aplikasi penyedia makanan Go-Food dan Grab-Frood untuk membantu pemasaran mi ayamnya.

Permintaan pasar yang cukup tinggi membuat Luhur bersama dengan tiga temannya sepakat mendirikan restoran pada bulan September 2018. Ia menilai, bisnisnya berkembang cepat berkat pemasaran yang jitu.

"Kami tekankan pada branding dan marketing," kata Luhur.

Menurut Luhur, target pasar Demi adalah kaum milenial. Akan tetapi, Demie sebagai penjaja bakmi menunya bisa dinikmati oleh semua orang tanpa memandang usianya.

Demie juga menawarkan konsep yang berbeda dalam menjajakan mi ayam. Luhur mencermati kebanyakan kedai mi ayam tidak memerhatikan desain ruangannya.

Bersama mitranya, Luhur pun berinovasi untuk menghadirkan restoran bakmi yang nyaman dan kekinian. Di Ruko Pelaspas, Jalan Dharmawangsa yang berukuran satu setegah lapangan sepak bola itu, Demie berbagi ruang dengan penjual kuliner lainnya, yakni Cold Moo Swirls penjual es krim, restoran Taca Local di bagian tengah dan But First Coffee di bagian belakang.

Meski demikian, bermodal pengalamannya menjelajahi kuliner bakmi, Luhur mampu menghadirkan suasana yang glamor dan unik. Demie mengadopsi konsep dapur terbuka (open kitchen) sehingga masakannya bisa dilihat oleh para pelanggan.

Desain interior Demie pun tak luput dari perhatian Luhur. Dia memajang ornamen seperti lukisan, guci, dan sumpit tepat ditempat duduk para pelanggan.

Selain itu, Luhur juga mendesain restoran miliknya dengan meja hitam panjang sebagai sekat antara pelanggan dan koki yang menyerupai bar. "Jadi kita fokus ke tempatnya, bikin desain seunik mungkin," kata Luhur.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA