Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Mengapa Seseorang Menyukai Kopi Meskipun Pahit?

Ahad 23 Des 2018 05:11 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Andri Saubani

Secangkir kopi.

Secangkir kopi.

Foto: EPA
Kopi adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--  Meskipun minuman kopi terasa pahit, minuman ini adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Para peneliti telah menemukan alasan manusia menikmati minum kopi walaupun rasanya pahit.

Para ilmuwan dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago dan QIMR Berghofer Medical Research Institute di Australia bekerja sama untuk meneliti hubungan antara sensitivitas genetik seseorang terhadap zat pahit dan tingkat minuman pahit yang mereka konsumsi. Asisten profesor kedokteran di bidang pencegahan di Northwestern University Feinberg School of Medicine, Marilyn Cornelis mengatakan rasa telah dipelajari untuk waktu yang lama. Tetapi mereka tidak tahu mekanika lengkapnya.

Cornelis dan rekannya menggunakan dua set data dalam penelitiannya dan mereka telah mempublikasikannya di jurnal Scientific reports. Data set pertama berasal dari studi skala besar orang kembar Australia yang menunjukkan hubungan antara varian genetik dan bagaimana orang merasakan selera yang berbeda.

Para peneliti menyoroti varian spesifik yang mereka yakini memiliki tingkat kepahitan tinggi. Yaitu, kafein, kina, dan prop (senyawa pahit lain yang ada di beberapa sayuran).

Data set kedua berasal dari sebuah fasilitas penelitian yang menyimpan sampel darah, urin, air liur dari ratusan ribu orang, UK Biobank. Tim peneliti menggunakan lebih dari 400 ribu sampel pria dan wanita bersama dengan jawaban yang dilaporkan dari kuisioner tentang konsumsi minuman.

Penelitian ini menggunakan metode eksperimen alami yang disebut pengacakan Mendel untuk membandingkan varian dalam gen orang dengan seberapa sering orang yang sama minum kopi, teh, dan alkohol. Yang dimaksud peminum kopi berat adalah seseorang yang minum lebih dari empat cangkir sehari.

Sementara peminum teh berat adalah seseorang yang minum lebih dari lima gelas setiap hari. Peminum alkohol berat adalah mereka yang minum lebih dari tiga atau empat kali setiap pekan.

Para ilmuwan menentukan seseorang yang lebih peka terhadap rasa pahit kafein lebih banyak minum kopi. Namun mereka yang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap prop dan kina melaporkan kurang minum kopi.

Teh memiliki hasil yang berlawanan, sedangkan prop adalah satu-satunya zat yang jelas mempengaruhi konsumsi alkohol. Mereka dapat dengan mudah mendeteksi bahan kimia tersebut meminum lebih sedikit alkohol. Orang yang sensitif terhadap rasa pahit kafein lebih cenderung menjadi peminum kopi berat.

Ilmuwan telah mendokumentasikan dengan baik efek stimulasi kafein pada otak. Ini membuat mereka percaya respon ini bertindak semacam penguatan positif. Jadi ada kemungkinan peminum kopi regular mengambangkan kemampuan mendeteksi kafein atau sekadar merasakan.

Penulis pertama Jue Sheng Ong mengatakan studi ini memberikan jawaban mengapa orang tertentu berisiko lebih tinggi mengkonsumsi kopi.

“Jika secara genetis cenderung merasakan kepahitan dalam kecambah brussel, maka anda lebih cenderung menyukai secangkir teh daripada kopi. Hal yang sama berlaku pada anggur merah, orang yang tidak menyukai makanan kaya prop kecil kemungkinan menyukai anggur merah,” ujar Jue Sheng Ong, seperti yang dilansir dari Medical News Today, Sabtu (23/12).


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA