Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Paparan Zat Nikotin Berisiko Bagi Janin dalam Kandungan

Rabu 19 Jun 2019 16:26 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Christiyaningsih

Rokok. (ilustrasi)

Rokok. (ilustrasi)

Foto: ABC News
Janin yang terpapar asap rokok bisa memiliki berat badan yang lebih rendah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingginya angka prevalensi perokok perempuan yang meningkat menjadi sebuah peringatan tersendiri. Terlebih, perempuan yang tengah hamil sangat memiliki risiko terhadap janin yang dikandungnya.

“Berat badan janin akan lebih rendah, panjang janin juga menjadi lebih pendek. Yang kita dapatkan pada penelitian, angka kematian janin atau bayi prematur mungkin menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terpapar asap rokok,” tutur dokter pulmonologi Sita Andarini.

Dokter dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini menjelaskan zat nikotin yang masuk ke dalam tubuh sehabis menghirup asap rokok akan termetabolisme di dalam tubuh. Setelah masuk metabolisme atau ekskresi, zat nikotin akan menghasilkan zat kotinin.

Zat kotinin itu kemudian akan masuk ke tali pusat. Artinya, zat kotinin itu akan memengaruhi janin. Ketika melakukan penelitian di sebuah desa di Jawa Barat, dia menyayangkan keadaan di mana sulitnya menemukan keluarga yang benar-benar tak terpapar asap rokok.

Seringnya, dia menemukan kondisi keluarga di mana sang suami merokok sementara sang istri menjadi perokok pasif. Kondisi itu membuat jumlah perokok perempuan meningkat dan memiliki potensi terpapar asap rokok.

Hal itu juga tak dipungkiri dapat terjadi ketika sang istri tengah mengandung jabang bayi. Tingginya prevalensi perokok pasif perempuan itu pula juga berkontribusi kepada meningkatnya jumlah penderita kanker paru pada perempuan.

Kondisi yang tak kalah memprihatinkan adalah semakin banyaknya angka penderita kanker paru-paru yang usianya semakin muda. Setidaknya sebanyak 85 persen penderita kanker paru yang datang ke RS Persahabatan dan pada umumnya terdeteksi stadium lanjut yaitu stadium 3B dan stadium 4.

“Trennya semakin ke sini semakin banyak yang usianya muda. Kalau dulu penderita kanker paru-paru usianya 60 tahun atau 70 tahun, sekarang banyak juga penderita yang usianya mulai 40 tahun,” tutur Sita.

Kebanyakan penderita kanker paru tersebut adalah perokok atau bekas perokok. Sedangkan penderita kanker paru pada perempuan kebanyakan merupakan perokok pasif.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA